The Writing Coach

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Pernah suatu saat, seorang life coach mendatangi kami. Katanya ia ingin menulis buku dan butuh coach a.k.a mentor.  Awalnya, terasa lucu. Seorang coach butuh coach.  “Justru karena saya coach, saya mau bayar coach untuk hal yang belum saya tahu,” katanya.

Apakah wajib didampingi seorang coach untuk menulis buku? Tidak selalu. Anda baru membutuhkannya jika:

Sudah tahu mau menulis apa tapi kesulitan mengurai yang ada di kepala.

Anda tidak membutuhkan seorang coach jika baru dalam tahap ‘ingin menulis’ tapi tak punya ide sama sekali. Seorang coach, pada praktiknya, akan memancing, menstimulus hal-hal yang sebetulnya sudah kita miliki dan kita ketahui, tapi terlewat untuk disampaikan. Atau bahkan kadang-kadang, kita enggak sadar pentingnya hal yang kita anggap ‘biasa’ itu.

Butuh diskusi intensif

Seorang writing coach akan mendampingi Anda menulis naskah. Mendampingi riset awal, mengolah ide bersama-sama, lalu membuat cita-cita menulis itu menjadi konkrit dalam bentuk rencana kerja.

 

Merasa kurang disiplin.

Writing coach akan mendampingi Anda, mengingatkan tugas, memotivasi agar Anda bisa menyelesaikan tulisan sesuai dengan deadline yang disepakati. Bekerja bersama writing coach berarti siap bekerja keras.

 

Sudah mengalokasikan waktu

Program pendampingan penulisan (non fiksi) idealnya berlangsung selama 2-3 bulan dengan output sekitar 200 halaman buku ukuran A5. Jika Anda belum memprioritaskan aktivitas menulis buku, program bersama writing coach tak akan maksimal.

Siap dikritik

Seorang writing coach akan menjadi pembaca pertama naskah Anda. Lupakan saja niat didampingi seorang coach apabila Anda keliru mencintai sebuah karya dan tak siap menerima kritik.  

 

Lantas, di mana kita bisa menemukan writing coach di Indonesia?

Sebetulnya, tidak ada yang sungguh-sungguh menjalani profesi ini. Namun, Anda bisa mempertimbangkan untuk melamar para penulis yang juga mengelola pelatihan penulis. Anda juga bisa mempertimbangkan berkolaborasi dengan penulis buku yang sesuai dengan minat dan bidang Anda. Writing coach, umumya berbeda dengan co-writer atau penulis pendamping, namun pada praktiknya bisa saja writing coach diposisikan sebagai co-writer.

Bahkan jika kita mengenal seseorang yang kita tahu disiplin dan menulis secara profesional (bukan sekadar hobi), bisa saja ia menjadi mentor kita. Gali saja apakah kelak Anda bisa mendapatkan strategi yang bersifat teknis dan referensi luas. Sebab latihan menulis terbaik tetaplah bersifat soliter. Banyak baca, praktik menulis. Seorang writing coach pada akhirnya akan mengingatkan Anda pada program yang sudah disusun bersama.

Good luck!

 

Leave a Reply