Sekelumit Kesan Tentang JakBook & Edufair 2015

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Tidak ada yang benar-benar istimewa dari Plaza Parkir Timur Gelora Bung Karno, Senayan, selain sederet umbul-umbul bertuliskan JakBook & Edufair 2015 yang sudah menyambut dari pintu gerbang dan tenda-tenda putih yang menjadi tempat berlangsungnya acara.

image1

Pameran buku dan perlengkapan sekolah (yang disebut-sebut) terlengkap se-Jakarta ini, menjelang hari terakhir pelaksanaannya, tampak tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Tidak ada hiruk-pikuk dan kemeriahan. Padahal itu hari Minggu (2/8). Entah, mungkin “semprotan” Ahok, Gubernur Jakarta yang terkenal suka marah-marah itu, yang menyebut harga-harga di ajang itu mahal pada hari pembukaan JakBook cukup mampu merontokkan semangat calon-calon pengunjung yang ingin berbelanja di sana. Sebelumnya, para pedagang memang telah mengeluhkan jumlah pengunjung yang menurun drastis di JakBook & Edufair 2015.

Jika diperhatikan, pameran buku yang melibatkan lebih dari 30 tenant dan penerbit serta puluhan penyedia peralatan sekolah ini memang tampak “biasa saja”. Acara yang dimulai sejak pukul 9.00 ini dikunjungi oleh beragam orang, mulai dari anak sekolah, remaja, hingga keluarga yang sengaja hadir untuk mencari peralatan sekolah dan buku dengan harga miring atau sekadar melihat-lihat. Selebihnya, acara ini tidak lebih dari sekadar bazar jual-beli barang diskonan seperti di pusat perbelanjaan.

image2

Panggung utama tempat peluncuran buku maupun diskusi justru berada di bagian belakang hall. Saya sendiri hampir luput untuk datang ke sana karena tidak ada ingar bingar yang memberi petunjuk bahwa ada keseruan di sana. Padahal, diskusi-diskusi yang dihadirkan cukup menarik. Kelompok Penerbit AgroMedia yang mengadakan talk show bertema “Masa Depan e-Book di Indonesia”. Dalam talk show ini dibahas bagaimana penerbit mesti menyiapkan diri menghadapi perkembangan pembaca yang mulai beralih ke digital. Yang hadir sebagai pembicara adalah Hikmat Kurnia, CEO dan Direktur AgroMedia Group. Hadir juga Randy Anthony (Direktur Republik Media Kreatif, e-Book Agregator), Valiant Budi Yogi (penulis dan pencipta lagu), dan Stanley Octavian (Direktur Operasional getlivi.com, penyedia e-book). Namun, secara keseluruhan, panggung ini tampak menjadi hiasan saja agar pameran ini tidak dianggap komersial.

image3

Acara yang berlangsung sekitar seminggu sejak 27 Juni hingga 3 Agustus kemarin sesungguhnya bisa dibuat lebih dari yang sudah berlangsung. Sebagai pengunjung awam, saya melihat bahwa sepinya acaranya ini tidak cuma soal marah-marahnya Sang Gubernur, melainkan karena memang tidak ada hal menarik lain yang ditawarkan di acara ini. Diskon khusus pemegang KJP tampaknya tak cukup menarik untuk menarik masyarakat yang lebih luas. Jika mengejar diskon, rasa-rasanya lebih mudah bagi para pembeli untuk menemukannya di toko buku biasa, ketimbang mesti jauh-jauh datang ke Senayan. Alih-alih menemukan harga murah, pembeli harus buang ongkos lebih banyak untuk sampai ke tempat ini.

Pameran bukunya pun hanya menjual buku-buku yang mudah didapatkan di toko. Harganya? Ah, kok saya tidak mendapatkan sesuatu yang signifikan—kalau memang penawaran utamanya adalah harga. Diskusinya selingan saja, peluncuran bukunya lebih jadi acara rebutan tanda tangan.

Mungkin ajang kali ini merupakan ajang coba-coba bagi event organizer-nya. Atau, bisa juga ajang kali ini sekadar pemenuhan kewajiban, jadi apa pun dan bagaimana pun persiapannya ya harus dijadikan saja.

Sayang sekali, padahal saya berharap ada yang lebih untuk dunia perbukuan dan penerbitan Indonesia.

Leave a Reply