Saat StartupPedia mampir di GEPI

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Selepas maghrib, antrian orang seperti mengular di lobby DBS Tower, Jakarta. Tercatat sekitar 170 orang menyatakan akan datang pada acara Book Talk: StartupPedia bersama Anis Uzzaman.  Acara akan dimulai pukul 7 malam. Tim Bentang Pustaka, sudah membantu mendata peserta di lobby. Tim Arkea bersiap di ruang GEPI.

Gepi11

Di GEPI, tepatnya di lantai sembilan DBS Tower, suasana sudah mulai ramai. Kotak-kotak pizza segera dibuka. Obrolan pun tercipta. Ada yang baru membuat aplikasi. Ada yang sedang sibuk mencari pendanaan. Punya startup, terasa begitu ‘seksi’ di telinga anak muda sekarang. “Aku mau coba dulu setahun ini. Kalau enggak berhasil, nanti cari kerja saja,” kata seorang peserta acara sore itu.

Ia bilang, ia diberi tenggat waktu oleh orang tua. Silahkan coba dalam satu tahun setelah lulus kuliah, lalu lihat perkembangannya. Jika tak menjajikan, mau tak mau, perempuan muda berkacamata itu harus cari kerja. Atau sekolah lagi.

Sampai pukul 7 malam, masih saja ada orang berdatangan ke ruangan GEPI yang beratap rendah itu. Full House. Meski tak semua nama dalam daftar hadir itu dilengkapi dengan tanda tangan.

Gepi05

Tak lama kemudian, Anis Uzzaman, General Partner dan CEO Fenox Venture Capital mempresentasikan isi bukuya, StartupPedia – Panduan Membangun Startup ala Silicon Valley.

Buku StartupPedia lebih dulu diterbitkan di Jepang pada 2013. Buku berjudul asli “Startup Bible” yang ditulis Anis dalam Bahasa Jepang itu laris lebih dari 70 ribu eksemplar. CEO Rakuten Hiroshi Mikitani pun memuji StartupPedia sebagai “Buku yang wajib dibaca entrepreneur sebelum membangun startup”.

Dalam buku itu, Anis menekankan pentingnya menerapkan enam elemen penting untuk membangun startup yang sehat, yang berkelanjutan.  Secara khusus, melalui buku StartupPedia, Anis mencoba mengimplementasikan ‘cara Silicon Valley’ dalam membangun startup.

Enam elemen penting yang dimaksud ialah: membangun tim, menciptakan produk, melindunginya dengan paten, memasarkan produk, mengupayakan pendanaan, dan memikirkan strategi exit plan.

“Cari orang yang lebih pintar dari kamu,” kata Anis.

Gepi07

Pada tahap awal, sebuah startup mungkin tak butuh banyak orang. Mungkin kurang dari lima orang. Yang penting, setiap orang punya skill saling melengkapi dan tahu cara berbagi tugas.

Perempuan berkacamata yang kini duduk di sisi kiri ruangan pun tersenyum. “Sepertinya tim kami solid. Tapi ya enggak tahu ya kalau enam bulan lagi, sih.”

Masalah tim, memang krusial. Saat startup baru terbentuk, orang-orang ini berkumpul karena kepercayaan satu sama lain. Plus kemauan untuk bekerja sama, berwirausaha. Ini pilihan berisiko dan tentu saja, tak semua teman mau diajak membangun startup bareng-bareng.

Bahkan aturan ‘mencari yang pintar’ ini pun berlaku dalam hal mencari pendanaan. “Jangan cuma kejar uangnya. Tapi selain uang, harus ada yang bisa diajarkan oleh investor. Yaitu pengalaman dan keahlian. That’s a smart money.”

gepi03

Apa yang dipresentasikan Anis malam itu dikicaukan peserta lewat akun twitter mereka. Sembari berbagi informasi, sembari diganjar buku gratis.  Ya, 90 buku StartupPedia dibagikan gratis malam itu.  Plus, bisa minta tanda tangan dan berfoto bersama venture capitalist Silicon Valley. Kapan lagi?

Saat ini, buku StartupPedia sudah tersedia di toko buku dan bisa dibeli langsung melalui website thestartuppedia.com. Tersedia juga di Google Play. Selamat membaca dan praktik!

Foto-foto: Arkea.id/SantirtaMartendano

Leave a Reply