Peringatan Dini dari Marsekal Chappy Hakim

Yudho Raharjo
follow me

Yudho Raharjo

Head of PR & Communication at Arkea
Belajar Jurnalistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Poitik Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kini melanjutkan studi magister Komunikasi Perusahaan di Universitas Paramadina, Jakarta. Berpengalaman lebih dari 10 tahun sebagaiwartawan, penulis dan editor di berbagai media. Salah satu buku yang telah disunting berjudul “Menjaga Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa” karya Marsekal Purnawirawan Chappy Hakim.
Yudho Raharjo
follow me

Latest posts by Yudho Raharjo (see all)

Buku “Sengketa di Lanud Halim Perdanakusuma diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Bakti Angkatan Udara

Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Pesawat Hercules Angkatan Udara di Lanud Halim Perdanakusuma. (Arkea/Adri Irianto).

Yogyakarta, 29 Juli 1947, tiga kadet Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) lepas landas dari lapangan udara Maguwo di pagi buta. Menggunakan dua pesawat Cureng dan Guntei, Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko dan kadet Sutardjo Sigit sukses melakukan pengeboman terhadap pertahananan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa.

Pada sore harinya, Belanda melakukan aksi balas dendam. Dua pesawat militer Kittyhawk membom sebuah pesawat sipil jenis Dakota VT-CLA yang disewa pemerintah Indonesia untuk mengangkut bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Aksi pengecut Belanda itu mengakibatkan gugurnya tiga perintis AURI yaitu Adisutjipto, Abdurrahman Saleh dan Adisumarmo. Peristiwa yang terjadi 69 tahun silam itu diperingati sebagai Hari Bakti Angkatan Udara.

Dalam rangka peringatan Hari Bakti Angkatan Udara ke-69, Marsekal Purnawirawan Chappy Hakim, meluncurkan buku berjudul “Sengketa di Lanud Halim Perdanakusuma” pada 29 Juli 2016. Bertempat di Catalina Room, Klub Eksekutif Persada yang terletak di Jalan Raya Protokol Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, buku yang diterbitkan Hendropriyono Strategic Consultant tersebut diluncurkan.

Pada pidato pembukaannya, Chappy yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara pada 2002-2005 mengemukakan pada tahun 2014-2015 lalu, Soekarno Hatta International Airport (SHIA) telah kelebihan kapasitas daya tampung penumpang hampir tiga kali lipat dari kemampuannya. Saat itu yang dilakukan adalah memindahkan sekitar 50 hingga 100 penerbangan ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Setelah itu yang dilakukan justru menambah slot penerbangan di SHIA dan juga di Halim secara bersama-sama.

“Pada April 2016 terjadilah sebuah kecelakaan konyol yaitu tabrakan pesawat terbang Batik Air dengan Trans Nusa di landasan Lanud Halim,” ujarnya.

Dalam buku setebal 168 halaman tersebut, Chappy menjadikan kecelakaan pesawat terbang sipil komersial di Pangkalan Angkatan Udara sebagai pintu masuk yang membuka pengetahuan pembacanya. Pembaca buku ini diajak untuk menelusuri sejarah Lanud Halim beserta skadron-skadron udara yang berpangkalan di dalamnya. Pada Bab II, Chappy mengajak pembacanya menelusuri bagaimana awal mula Halim pdijadikan Bandara Internasional. Tulisan Chappy yang lulus dari Akademi Angkatan Udara pada tahun 1971 itu terus mengalir hingga bab-bab selanjutnya sebelum ditutup di Bab VIII.

Saefullah Wiradipraja, Guru Besar Hukum Udara dan Ruang Angkasa Fakultas Hukum Universitas Padjajaran yang menjadi salah satu pembicara dalam acara peluncuran buku mengemukakan buku ini adalah peringatan dini (early warning) terhadap berbagai kemungkinan yang tidak diharapkan oleh Indonesia di masa depan.

“Khususnya bagi dunia penerbangan dan perekonomian bangsa,” ujarnya.

Selepas “Romansa Americana”, “Menjaga Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa (Membangun Pertahanan Keamanan Negara)”, buku “Sengketa di Lanud Halim Perdanakusuma” adalah buku ketiga Chappy Hakim yang dikemas oleh Arkea Indonesia. Pada awalnya, Chappy hendak menerbitkan kembali Otobiografinya bersamaan dengan peringatan Hari Bakti Angkatan Udara pada tahun ini. Namun di tengah jalan, pada awal Mei, Chappy memberikan naskah tentang Lanud Halim untuk disunting sekaligus dikemas dalam bentuk buku oleh Arkea.

Setelah diskusi panjang yang memakan waktu hampir dua bulan, akhirnya draft naskah awal yang hanya setebal 50 halaman bertambah menjadi lebih dari tiga kali lipat mencapai 168 halaman. Pada akhirnya tenggat waktu yang membatasi Chappy untuk memberi tambahan di sana-sini pada draft buku. Terimakasih banyak Marsekal, kami tunggu di project selanjutnya.

Leave a Reply