Perihal Menyunting

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Ada sebuah anekdot yang mengatakan, “Mengarang itu perkara gampang. Menyunting untuk menjadikannya bagus itu lain perkara.”

Ya. Siapa pun bisa menulis dan mengarang sebebas-bebasnya mengenai hal yang disukai dan diketahui. Menuangkan gagasan yang ada di kepala sesungguhnya semudah berbicara. Namun, kebanyakan orang merasa terhambat menuangkannya karena takut salah, takut tidak tepat, atau telanjur merasa tidak bisa menulis. Tidak heran jika banyak penulis kemudian hanya menyimpan naskahnya di laptop atau di draf blog mereka, tanpa punya keinginan untuk memublikasikannya kepada khalayak

Perihal menulis, banyak yang masih belum benar-benar mengerti bahwa proses menulis tidak bisa sekali jadi. Bahkan sastrawan, jurnalis, dan penulis profesional lainnya pun tidak membiarkan tulisannya selesai dan jadi dalam satu kali penulisan. Biasanya setelah sebuah naskah selesai, perlu sedikit atau banyak waktu untuk berjarak dengannya sehingga penulis dapat menemukan kesalahan-kesalahan, baik dari segi penulisan maupun tata bahasa. Inilah proses penyuntingan.

SE - 2

Dalam menyunting naskah tulisan, penulis tidak senantiasa bekerja sendiri. Lazimnya, hadir seorang penyunting, atau penyelia, atau editor, untuk membaca dan “membongkar” tulisan si penulis serta menunjukkan kesalahan serta bagian yang tidak perlu ada. Tentu saja ini penting dilakukan agar sebuah tulisan menjadi enak dibaca dan layak untuk diterbitkan. Di penerbit-penerbit besar, kehadiran penyunting sudah menjadi hal yang pasti. Namun, di sistem penerbit mandiri, seorang penyunting tidak mutlak ada karena penulis bisa juga berfungsi sebagai penyunting.

Boleh diakui bahwa self-editing bukan hal yang mudah dilakukan oleh pemula, tetapi setiap orang punya kesempatan belajar bagaimana cara menyunting sebuah tulisan. Bagaimana caranya?

Yang paling sederhana adalah belajar untuk menjadi seorang yang teliti. Ketika menyusun tulisannya, bukan tidak mungkin jika seorang penulis melakukan kesalahan ketik. Dengan mengasah mata untuk teliti pada kesalahan, sebuah tulisan akan selangkah lebih baik. Setelah itu, belajar menggunakan tata bahasa yang baik dan benar—paling tidak mengerti penggunaan tanda baca, huruf kapital, dan ejaan.

Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan dalam self-editing adalah membaca ulang naskah berulang-ulang, karena dari situlah muncul kepekaan mengenai bagian yang kurang tepat, perlu ditambahkan, atau bahkan tidak perlu ada sama sekali. Tidak ada salahnya jika seorang penulis membagikan naskahnya kepada orang lain untuk mengetahui seberapa nyaman orang lain membaca tulisannya, atau apakah orang lain dapat menangkap apa yang ingin si penulis sampaikan. Dengan begitu, penulis bisa mendapatkan feedback untuk menyempurnakan tulisannya.

Leave a Reply