Nama Samaran Para Penulis Besar

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Ada banyak sekali detail yang tanpa disadari menjadi penting ketika Anda memutuskan untuk menjadi seorang penulis yang terpublikasi. Mulai dari gaya tulisan, pilihan topik, upaya promosi, opsi penerbitan, dan…….. nama Anda.

“What’s in a name?”

Shakespeare mungkin tidak terlalu peduli mengenai nama. Orang tua Anda pun, ketika menamai Anda, lebih mementingkan doa dan makna di balik nama ketimbang pelafalan yang memudahkan orang lain mengingat Anda. Namun, ketika Anda memulai karier sebagai seorang penulis modern, nama di sampul buku menjadi sesuatu yang penting sekarang. Itu sebabnya, sebagai seorang penulis, Anda memiliki kesempatan untuk menyusun ulang nama Anda, alias membuat nama pena atau nama samaran (pseudonym). Istilahnya: Nom De Plume.

Ada banyak alasan untuk mempertimbangkan sebuah pseudonym.

Mungkin Anda membutuhkan kebebasan yang ditawarkan oleh anonimitas. Atau, novel terbaru Anda memiliki genre yang sama sekali berbeda dengan tulisan-tulisan Anda sebelumnya, sehingga Anda membutuhkan citra baru. Bisa juga karena Anda ingin membedakan nama untuk karya fiksi maupun nonfiksi. Atau, nama Anda terasa “kurang menjual”, sehingga Anda ingin melakukan re-branding.

Banyak penulis besar lebih terkenal lewat nama samaran mereka ketimbang nama aslinya. Alasannya macam-macam, mulai dari yang politis sampai yang akan membuat Anda tersenyum lebar.  Di tahun-tahun sebelumnya, banyak penulis memutuskan menulis dengan nama samaran untuk menghindari hukuman atas tulisan-tulisan yang provokatif, atau untuk menghindari diskriminasi. Silakan mengintipnya di infografis berikut.

Nom De Plume

Leave a Reply