Menulis surat, seperti Kartini…

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Ada banyak perempuan pejuang di Indonesia. Tapi kenapa kita merayakan Hari Kartini ?

Tercatat setidaknya 12 nama antara lain Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, hingga Martha Christina Tiahahu. Dan menjelang Hari Kartini 21 April, ada saja pernyataan-pernyataan yang mempertanyakan ulang: kenapa cuma Kartini yang diistimewakan sementara Dewi Sartika lebih progresif dengan mendirikan sekolah keputrian lebih dulu? Dan kenapa implementasi perayaan Hari Kartini ialah penggunaan kebaya dan sanggul?

Tentang kenapa Kartini, ada yang berpendapat begini: Kartini menjadi istimewa karena ia menyampaikan gagasan-gagasan yang luar biasa, melewati zamannya, yang ia tuangkan dalam surat-suratnya kepada Stella.

Tentang ini pun masih ada kontroversi sengit. Ada keraguan besar apakah surat-surat yang dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” betul-betul memuat keaslian pemikiran RA Kartini? Atau sebetulnya itu lah kerja J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda dalam merekayasa dan mengedit surat-surat Kartini.

Keraguan itu muncul karena sampai sekarang, sebagian besar naskah asli surat tak lagi diketahui rimbanya. Dan buku Kartini terbit pertama kali saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda. Tentu saja, Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.

IMG-20160421-WA0017

Lepas dari segala kontroversi itu, Kartini menulis. Surat-surat yang ia tulis, yang juga menjadi salah satu sumber bagi Pramoedya Ananta Toer menyusun “Panggil Aku Kartini Saja” adalah sepotong jejak.

Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.
– R. A. Kartini

Picture: hercampus.com
Foto ilustrasi: hercampus.com

Surat-surat yang dibukukan

Menulis surat, bisa jadi bukan hal yang populer saat ini. Tahun 90-an, orang masih biasa mengirim surat. Masih deg-degan saat membuka amplop lalu membaca kata demi kata. Namun, meski sekarang makin jarang dilakukan, efek membaca surat tetaplah menyentuh hati Surat, ialah sesuatu yang personal. Apalagi yang berupa tulisan tangan.  Pernah, seorang direktur BUMN yang pensiun dini  “nangis bombay” terharu saat menerima dan membaca dua buku berisi kumpulan surat para pegawai yang ia tinggalkan.

Dalam dunia fiksi,  ada buku “Sabtu bersama Bapak” (Adhitya Mulya) yang mengambil konsep cerita: si ayah yang berpesan lewat surat untuk kedua anak lelakinya, saat ia sakit dan tau umurnya tak panjang lagi. Surat-surat itu hanya bisa dibuka saat hari Sabtu. Dan seorang teman, meski ia seorang ibu dan belum membaca buku tersebut, mengaku punya kebiasaan serupa. Ia selalu menghadiahi surat untuk putri tunggalnya sebagai salah satu hadiah ulang tahun. Kini anaknya berusia 12 tahun, sehingga ada 12 surat yang kemudian di-kliping si anak menjadi sebuah buku. So sweet ya 🙂

Kumpulan artikel/surat dari para sahabat juga bisa dibukukan. Seperti misalnya, yang baru-baru saja diluncurkan ialah “60 Tahun Jimly Asshidiqie: Menurut Para Sahabat”.  Entah bagaimana khalayak menilainya, namun ide ini bisa di”bumikan” untuk sebuah project keluarga besar, misalnya, sebuah buku persembahan dari keluarga besar untuk merayakan pernikahan ke 75 tahun kakek-nenek. Bisa saja diberi judul “What we learn about love”. Ya kan?

Buku berisi kumpulan surat yang menyejukkan hati, salah satunya, ialah buku “Dear Professor Einstein: Albert Einstein’s Letters to and from Children”.

DearProfEinsten

Buku berisi kumpulan surat dari anak-anak kepada ilmuwan kondang itu, memuat surat, antara lain, seperti di bawah ini.

The Riverside Church

January 19, 1936

My dear Dr. Einstein,

We have brought up the question: Do scientists pray? in our Sunday school class. It began by asking whether we could believe in both science and religion. We are writing to scientists and other important men, to try and have our own question answered.

We will feel greatly honored if you will answer our question: Do scientists pray, and what do they pray for?

We are in the sixth grade, Miss Ellis’s class.

Respectfully yours,

Phyllis

Kemudian, Einsten membalas surat itu lima hari kemudian, dengan jawaban seperti ini.

January 24, 1936

Dear Phyllis,

I will attempt to reply to your question as simply as I can. Here is my answer:

Scientists believe that every occurrence, including the affairs of human beings, is due to the laws of nature. Therefore a scientist cannot be inclined to believe that the course of events can be influenced by prayer, that is, by a supernaturally manifested wish.

However, we must concede that our actual knowledge of these forces is imperfect, so that in the end the belief in the existence of a final, ultimate spirit rests on a kind of faith. Such belief remains widespread even with the current achievements in science.

But also, everyone who is seriously involved in the pursuit of science becomes convinced that some spirit is manifest in the laws of the universe, one that is vastly superior to that of man. In this way the pursuit of science leads to a religious feeling of a special sort, which is surely quite different from the religiosity of someone more naive.

With cordial greetings,

your A. Einstein

Nice ya!

Jadi, selamat Hari Kartini. Mari menuangkan gagasan, seperti Kartini. Apa yang kita tulis, ialah apa yang kemudian menjadi jejak pemikiran. Apabila kita membagikan hal baik, barangkali pesannya bisa berguna melintasi zaman.

 

 

2 thoughts on “Menulis surat, seperti Kartini…

  1. Yati Rachmat Reply

    Aduduu..Mbak Sica Harum, Bunda berdecak kagum membaca setiap postingan yang Mbak Sica muat di blog, apalagi yang memenangkan hadiah pertama dalam lomba di sini http://sicaharum.com/berani-gagal-lewat-platform-digital/ memang sudah layak banget jadi pemenang pertama. Bunda kagum selama membaca, baik postingan yang ini atau pun postinangan yang jadi tonggak kemenangan dalam Blog Competition My Republic. Maaf kalau komentar jadi OOT, ya. karena terlalu kagum nih sama tulisan Mbak Sica Harum.

Leave a Reply