Menulis Buku, Mewariskan Pemikiran

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Apa yang akan kita wariskan ke anak cucu kelak. Rumah? Harta? Apa yang kelak bisa kita wariskan untuk peradaban? Untuk kehidupan generasi masa mendatang? Sebuah buku, mungkin?

Dalam sebuah perjalanan ke negara tetangga tahun lalu, tanpa sengaja saya tiba bertepatan dengan masa berduka atas meninggalnya mantan orang nomor satu Singapura. Hampir di seluruh penjuru negeri mungil itu, foto-foto Lee Kuan Yew mendominasi. Termasuk kata-kata semasa hidupnya yang kemudian diabadikan pada deretan banner di pertokoan dan wahana atraksi untuk turis. Juga pada sejumlah panel display di Museum Nasional Singapura.

Sulit untuk mengabaikan deretan warga yang antri hingga bermalam di pinggir jalan untuk memberikan penghormatan terakhir. Nyaris tak mungkin menolak kenyataan bahwa satu manusia ini telah meninggalkan sebuah negara maju sebagai warisannya. Dan baru kali itu, saya sungguh-sungguh memikirkan arti warisan.

Dalam ruang lingkup terbatas, warisan kerap kali diartikan dan dimaknai sebagai bekal bagi anak cucu kita. Biasanya, berbentuk materi. Namun, sejauh apakah kita memikirkan untuk mewariskan pemikiran?

menulis buku untuk warisan pemikiran

Buku sebagai warisan bisa punya dua arti. Buku yang laris manis bisa mendatangkan royalti yang tak kunjung henti. Bahkan sampai penulisnya mati. Tentu saja, dengan iklim industri penerbitan di Indonesia, cita-cita memperlakukan buku karya kita sebagai harta benda itu, masih perlu banyak doa.

Namun, menulis buku berarti juga mewariskan pemikiran, ide, pengetahuan dan pengalaman. Dengan begitu, isi buku menjadi bisa dipelajari, dikaji, diamalkan. Sebuah karya, bisa berusia lebih panjang ketimbang jabatan di kantor yang bisa berganti.

Pramoedya Ananta Toer mewariskan banyak pemikiran penting tentang menjadi orang Indonesia. Semasa hidupnya, Gus Dur menulis 27 buku (seperti yang terdata di gusdur.net) dan Hamka meninggalkan lebih dari 70 karya. Bagaimana dengan kita?

Barangkali kini sudah saatnya, ada cita-cita yang dicanangkan untuk mewariskan pemikiran, pengetahuan dan pengalaman melalui buku untuk generasi mendatang. Bukan karena merasa lebih segalanya. Tapi karena pengetahuan dan pengalaman yang menguatkan dan menumbuhkan diri kita, layak juga untuk diketahui dan dipelajari orang lain. Dengan cara itu lah kita berbagi.

 

Leave a Reply