Menularkan Virus Kelompok Membaca

Yudho Raharjo
follow me

Yudho Raharjo

Head of PR & Communication at Arkea
Belajar Jurnalistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Poitik Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kini melanjutkan studi magister Komunikasi Perusahaan di Universitas Paramadina, Jakarta. Berpengalaman lebih dari 10 tahun sebagaiwartawan, penulis dan editor di berbagai media. Salah satu buku yang telah disunting berjudul “Menjaga Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa” karya Marsekal Purnawirawan Chappy Hakim.
Yudho Raharjo
follow me

Latest posts by Yudho Raharjo (see all)

“Keberanian itu menular”

(Julian Assange, Pendiri Wilileaks)

 

Sekitar 50 orang peserta memadati Gedung Geugeut Winda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Selasa 15 Maret 2016. Di gedung yang menjadi Pusat Kegiatan Mahasiswa UPI tersebut, diluncurkan buku “Anak-anak Multatuli” karya Ubaidilah Muchtar.

AAM-BDG-2

Rosita Rachma, Dosen Pendidikan Sastra dan Bahasa UPI yang menjadi salah satu pembicara mengatakan buku “Anak-anak Multatuli” adalah sebuah buku yang sangat luar biasa. Di dalam buku itu menurut Rosita tergambarkan dengan terang benderang perjuangan Ubaidilah sebagai seorang guru.

Ubai menurut Rahma bukanlah seorang guru biasa. Ubai adalah guru luar biasa yang mengajarkan anak-anak yang menjadi muridnya di pedalaman Lebak membaca sebuah novel kelas dunia berjudul “Max Havelaar” karya Multatuli.

AAM-BDG-3

Namun, setelah melontarkan puja-puji terhadap Ubai dan “Anak-anak Multatuli” yang membangkitkan optimisme terbangunnya tradisi membaca, Rosita juga mengetengahkan data dari sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Harian Pikiran Rakyat di Bandung.  Penelitian itu menunjukkan jika 85 persen masyarakat Indonesia lebih memilih untuk menonton acara-acara di televisi dibanding membaca.

Selain itu, berdasarkan riset yang pernah dilakukan penyair Taufiq Ismail pada tahun 2003 lalu, Rosita kembali mengetengahkan data menarik. Ia menyebutkan, guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) di Singapura dan Malaysia telah mewajibkan murid-muridnya untuk membaca minimal enam judul buku setiap tahun.

“Sementara guru-guru SMA di Indonesia tidak pernah mewajibkan membaca buku,” katanya.

AAM-BDG-1

Taman baca Multatuli yang didirikan Ubai dan kegiatannya terdokumentasikan dengan apik di dalam buku “Anak-anak Multatuli” terbitan ArkeaBooks. Menurut Rosita, itu menunjukkan konsistensi Ubai membangun tradisi membaca di kalangan anak-anak yang tinggal di Kampung Ciseel tempat Ubai mengajar. Rosita mengatakan konsistensi seperti yang ditunjukkan Ubai menjadi kunci untuk membangun budaya baca di Indonesia yang sangat memprihatinkan.

“Di Jerman, dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk membangun budaya membaca,” ujar Rosita.

Pada akhir pemaparannya, Rosita mengharapkan yang telah dilakukan Ubai menginspirasi para peserta diskusi yang menghadiri acara peluncuran buku. Rosita juga berharap para peserta diskusi termotivasi dan menindaklanjuti diskusi dengan membangun taman-taman yang berisi kelompok-kelompok pembaca di tempat lain.

“Mudah-mudahan banyak yang mengikuti jejak Kang Ubai,” katanya.

Semoga harapan Rosita dan kerja Ubai berbuah keberanian untuk mendirikan taman-taman baca dan membentuk kelompok-kelompok membaca dapat menular ke seluruh Indonesia.

Leave a Reply