Mengembalikan Kepercayaan Diri Setelah Ditolak [oleh Penerbit]

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Hampir semua penulis pernah punya pengalaman ini: kehilangan kepercayaan diri terhadap tulisan sendiri setelah mendapat penolakan maupun kritik tajam, baik dari editor maupun penerbit.

Saya pun pernah mengalaminya sekitar beberapa tahun lalu. Seorang editor berkata bahwa hasil tulisan saya jauh lebih rendah daripada ekspektasinya. Editor tersebut juga sempat mengatakan bahwa mungkin bakat terbesar saya bukan di bidang penulisan. Padahal, selama ini menulis adalah salah satu kegiatan yang paling saya nikmati; eskapisme saya. Menghadapi kritik semacam itu, kepercayaan diri untuk menulis pun mendadak goyah. Apa tulisan saya memang sejelek itu? Apa saya benar-benar tidak bisa menulis?

dougs_demonToh, pada akhirnya saya masih menulis. Karena hanya dengan menulis lah saya menemukan aktualisasi diri, seburuk apa pun tulisan saya bagi pembaca lain.

Walau demikian, mengembalikan kepercayaan diri untuk menulis lagi bukan hal yang mudah. Tepatnya, mengembalikan kepercayaan diri untuk berani mempublikasikan tulisan lagi. Sebagai penulis, saya harus berjuang melawan “kritikus bayangan” yang bersarang di dalam kepala dan menghalang-halangi diri untuk berani menulis. Ada semacam bisikan yang mengatakan, ‘Sudahi saja’.

Seringkali, ketidakmampuan menghasilkan tulisan justru disebabkan oleh hal ini, bukan karena ketiadaan inspirasi. Celakanya, banyak penulis pemula lainnya harus mati-matian melawan kondisi yang sama. Apalagi, ketika naskah tulisan yang dikirim ke penerbit selalu dikembalikan alias ditolak; tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Bukan sebuah hal yang mengherankan ketika tidak sedikit penulis pada akhirnya memilih untuk menyerah dan percaya bahwa diri mereka bukan penulis yang baik.

Mendapat penolakan adalah hal yang menyakitkan. Merasa tidak dapat melakukan hal yang disenangi dengan baik justru lebih menyakitkan. Dan ternyata, situasi seperti ini adalah fenomena psikis yang sama dengan ketika seseorang menjalani hubungan sosial yang abusif.

writers-blockPadahal kenyataannya, setiap penulis harus siap menerima pil pahit berupa kritik: apa pun isi dan bentuk kritiknya. Kritik yang apresiatif dan konstruktif maupun kritik yang destruktif. Bahkan seorang penulis mapan pun harus siap menghadapi kritik yang serupa. Ketika kritik disampaikan oleh orang lain, bisa jadi penulis masih dapat mempertahankan kepercayaan dirinya. Ia dapat membantah bahwa selera masing-masing orang berbeda dan itu adalah persoalan penerimaan. Tetapi, kritik terbesar muncul dari diri sendiri. Kritik yang muncul dari diri sendiri selalu memberikan terlalu banyak pertimbangan dan ketakutan untuk berkarya. Lalu bagaimana mengatasinya?

Terdengar klise memang, tetapi tidak ada tip khusus untuk melawan hal ini mengingat kondisi ini menjadi sangat personal bagi masing-masing penulis.

Walau begitu, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan oleh seorang yang ingin melanjutkan karier kepenulisannya. Berjarak dari kegiatan menulis adalah salah satunya, dan mengalihkan keinginan menulis dengan mengeksplorasi bacaan. Mengapa perlu memberi jarak? Sebab dengan demikian, seorang penulis akan benar-benar memiliki waktu untuk mengetahui persis seperti apa tulisannya. Apakah tulisan tersebut memang belum cukup kuat? Apakah tulisan ini terlalu berlebihan? Dan lain-lain, dan lain-lain. Selain itu, mengapa perlu mengeksplorasi bacaan? Jawabannya sederhana saja. Sebab, bukankah hanya dengan membaca kita dapat menulis?

Leave a Reply