Membukukan Blog, Seberapa Harus?

Redaksi Arkea

Arkea

Berbasis di Jakarta, Indonesia, kami menyediakan layanan strategi dan pembuatan konten untuk pemasaran, komunikasi perusahaan, dan personal branding.
Redaksi Arkea

Latest posts by Arkea (see all)

blog buku (2)

Di Amerika, fenomena menarik terjadi sejak satu dekade lalu. Para penerbit ternama di negeri Paman Sam itu kini asyik berselancar di dunia maya. Dari sekedar ngepoin instagram dan facebook para penulis, menelusuri tweet dan hastag seru hingga -ini yang tercatat paling sukses- menjajaki blog-blog yang sedang hits.

Iseng belaka? Tentu tidak. Media sosial kini menjadi sumber utama para penerbit untuk mengeksplorasi ide dan menemukan inspirasi buku yang tepat untuk dijadikan “next best seller“.

Penerbit kenamaan HarperCollins misalnya ‘menemukan’ konten menarik dalam blog failblog.org yang ditulis blogger Ben Huh. Isi blog ini merupakan kumpulan video dan foto berbagai kegagalan Amerika. HarperCollins dengan apik menjadikan blog ini semacam buku panduan travel dan berhasil menjadi best seller tahun 2009.

Huh pun mengakui sebelumnya dibanjiri permintaan menerbitkan buku oleh para agen saat page views blognya mencapai 220 juta per bulan. Blogger Pamela Sim pun mengakui hal yang sama. Meski proses penerbitan buku “Escape From Cubical Nation” saat itu harus pending hingga setahun, penerbit sekelas Pinguin akhirnya tergoda untuk mengeksekusi proposal buku blognya.

Dari sisi bisnis, logikanya cukup sederhana. Semakin banyak page views sebuah blog, maka akan semakin banyak pula orang yang siap merogoh kantong untuk membeli buku. Apalagi setiap blogger biasanya telah membangun komunitas mereka sehingga distribusi buku akan semakin mudah.

Kenapa harus buku?

Bagi sebagian blogger, blog bisa jadi media paling nyaman yang tanpa batas mampu menelan segala ide, tanpa syarat. Lalu kemudian, kenapa harus diubah menjadi buku? Alasannya banyak dan beragam. Blogger Abdul Cholik yang menulis buku “Dari Blog Menjadi Buku – Panduan Praktis Menerbitkan Buku dari Artikel Blog” menilai tulisan-tulisannya di blog akan memiliki kemanfaatan yang lebih besar saat dibukukan.

Blogger Pamela Sim seperti dikutip dari mashable.com punya jawaban menarik atas pertanyaan ini:
cover buku escape
“There are two things at play in my opinion: One is personal challenge and the other is business opportunity. As much as blogging feels important, it is brief and fleeting. You can crank out a killer post that gets tons of attention, but then it fades away. A book is very different. It forces you to string together a whole bunch of different ideas into a cohesive story. On the business side, there is no denying that having a published book opens doors. It is much easier to get traditional press coverage, and speaking gigs. People often assume that you are a ‘real writer’ when you have a book, even if you have been writing for years on a blog.”

Jadi mumpung keriaan hari blogger nasional belum memudar, mungkin membukukan blog bisa jadi ‘keharusan’ baru sebagai bagian dari perayaan para blogger Indonesia. Selamat membukukan blog!

Leave a Reply