Membaca Sastra Visual

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Banyak orang berpikir, membaca adalalah kegiatan yang semakin jarang dilakukan oleh anak-anak muda, termasuk mereka yang masuk golongan generasi Y atau milenial. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dianggap menyeret mereka jauh dari kegiatan membaca buku dan menenggelamkan mereka pada gawai yang selalu mereka pegang dan media sosial yang mereka rambah. Walau demikian, rasanya kesimpulan yang seperti itu cenderung terlalu terburu-buru diambil.

student-849827_1280

Jika membandingkan pandangan yang beredar di masyarakat, kaum milenial sesungguhnya adalah pecandu informasi. Sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey di Inggris melaporkan bahwa rata-rata orang menghabiskan 72 menit sehari untuk membaca berita. Angka ini meningkat 12 menit, dibandingkan pada tahun 2006 yang hanya mencapai angka rata-rata 60 menit. Yang patut digarisbawahi adalah peningkatan itu didorong oleh orang-orang di bawah usia 35 tahun.

Membandingkan juga dengan grafik New York Times, orang-orang berusia lebih dari 64 tahun menghabiskan waktu membaca per hari sebanyak 1 jam dan 24 menit. Remaja hingga dewasa muda usia 15-24 tahun menghabiskan rata-rata 50 menit sehari membaca dan mengejar kepentingan lain. Sedangkan mereka yang berusia 25-64 tahun menghabiskan hanya 32 menit untuk membaca. Meski membaca mungkin tidak menjadi prioritas, tapi milenial ternyata menghabiskan lebih banyak waktu membaca dari generasi yang lebih tua. Mereka tidak sekadar membaca. Mereka melihat, tepatnya memindai. Lalu bacaan seperti apa yang mereka pindai?

notebook-791292_1280

Mari perhatikan bersama. Belakangan ini jika mampir ke toko buku, kita akan melihat banyak variasi buku. Buku-buku yang diterbitkan tidak lagi konvensional berbasis teks saja, melainkan semakin banyak yang eksperimental. Ya, eksperimental. Yakni yang ikut melibatkan elemen visual pada isinya, bukan sebagai tempelan saja, melainkan sebagai kolaborasi. Dunia perbukuan sudah semakin memasuki era yang—kalau boleh saya istilahkan—dapat disebut sebagai sastra visual.

Bukan sekadar komik, bukan sekadar novel grafis. Juga bukan katalog. Buku-buku ini, dengan caranya masing-masing, menggabungkan semuanya.

Apa yang membuat buku-buku ini jauh lebih mudah dibaca oleh para milenial? Pertama, buku-buku itu sangat visual. Teks sering diperlakukan sebagai elemen grafis. Ada gambar berwarna-warni besar, foto yang bercerita, dan bagan-bagan informasi yang mudah dipahami. Kedua, gaya penulisan pada buku-buku mudah untuk dipahami, tidak berat dan kaku, tetapi tetap menjadi menarik.

Dengan memahami jenis informasi yang dicari oleh para milenial, setiap orang diberanikan untuk membuat buku yang tidak lagi konvensional. Setiap orang tidak benar-benar harus menulis, melainkan dapat membuat konten yang lebih kreatif. Terlebih lagi, mencari tahu jenis informasi yang dibutuhkan mereka adalah sesuatu yang lebih mudah.

Milenial mampu mengambil banyak informasi visual sekaligus, mungkin lebih dari generasi yang lebih tua, asalkan itu disajikan dengan cara yang menarik dan mudah dicerna. Pembaca yang lebih tua cenderung mengabaikan desain dan fokus pada makna, sedangkan milenial berkebalikan. Itu sebabnya, membuat desain yang baik sama pentingnya—jika tidak lebih penting—daripada persoalan menulis yang baik.

2 thoughts on “Membaca Sastra Visual

  1. Blog Membaca Reply

    Pengalaman memberikan kita pelajaran berharga, tapi buku memberikan kita kemapuan untuk mendapatkan pengalaman yang jauh lebih berharga. Terimakasih sudah berbagi 🙂

Leave a Reply