Membaca Cerpen? Memangnya Perlu?

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

 

Sudah lebih dari sepuluh tahun saya memaksa diri untuk secara rutin membaca cerpen dari berbagai penulis, yang lokal maupun yang terjemahan.

Di antara tujuh hari dalam seminggu, hari Minggu adalah hari yang saya nantikan. Bukan semata-mata karena itu adalah hari libur, tetapi karena saya menanti koran Minggu.

Sebab itu berarti saya akan mendapat asupan cerpen dari beragam penulis yang karyanya dimuat di koran-koran yang biasa saya langgan.

Ya, cerpen. Ada kesenangan tertentu buat saya setiap kali membaca cerita pendek alias cerpen.

Awalnya saya hanya membaca cerpen ketika menemukannya di halaman majalah atau koran. Lama-lama semakin intens, seminggu sekali satu cerpen. Akhirnya saya “mengonsumsi” cerpen makin sering. Paling tidak tiga cerpen dalam seminggu.

Melalui cerpen, saya selalu menemukan hal-hal baru, bahkan bentuk baru dan gaya baru, yang menjadi inspirasi untuk saya sendiri dalam menulis.

Sulit untuk menyangkal kekuatan cerita pendek sebagai sumber inspirasi dalam menulis. Cerpen yang baik—yang biasanya dimuat di surat kabar—selalu memberikan pengalaman membaca yang unik, justru karena pendeknya cerita.

Ruang yang tidak banyak itu membuat segala sesuatu di dalam cerpen menjadi padat, dan sialnya, membuat segalanya menjadi tidak terduga dan cepat. Hal ini tentu tidak didapatkan pada novel yang cenderung memberikan pembaca ruang-ruang istirahat untuk masuk ke kedalaman cerita.

Dan tidak seperti novel pula, cerpen tidak menawarkan deskripsi yang detail. Padahal semua unsur yang ada di dalam cerpen semuanya ada juga di dalam novel.

Pembaca, lewat segala sesuatu yang disampaikan secara ringkas, diajak untuk berfantasi sebebas mungkin mengenai hal-hal yang biasa muncul di novel, mulai dari karakter sampai plotnya.

Hal ini tidak mudah, itulah sebabnya mengapa membaca dan memahami cerita pendek ternyata menawarkan begitu banyak nilai bagi seseorang yang menulis.

girl-791037_1280

Harus diakui bahwa ada kenyamanan tertentu yang didapatkan saat membaca novel. Kita terbiasa dengan karakter, terbiasa dengan plot, dan kita semua menikmati perjalanan yang cukup panjang bersama dengan karakter kesukaan kita sampai akhir cerita.

Namun, dalam cerita pendek, kita hanya punya waktu yang sebentar untuk mengetahui akhir cerita. Waktu yang sebentar itu memaksa kita  sebagai pembaca untuk lebih fokus dan memberikan dedikasi lebih terhadap cerita, sekaligus membuat lebih banyak waktu untuk membaca. Bukankah lebih mudah meninggalkan novel ketimbang cerpen?

Kini, tanpa terasa, sudah lebih dari 10 tahun saya memaksakan diri untuk rutin membaca cerpen dari berbagai penulis, yang lokal maupun yang terjemahan. Dan hasilnya, saya semakin kecanduan. Mau coba?

Leave a Reply