Media Cetak atau Media Digital?

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Masihkah Anda melanggan media cetak?

Sebelum melanjutkan pertanyaan di atas, izinkan saya bercerita sedikit kepada Anda.

Saya sangat suka membaca majalah. Majalah apa pun, sebutkan saja. Majalah berita, majalah gaya hidup, majalah pengetahuan, bahkan majalah dirgantara, majalah sastra, dan majalah sejarah. Mungkin yang tidak saya baca dengan rutin adalah majalah bola—lebih karena saya kurang tertarik dengan olahraga tersebut. Namun secara umum, buat saya, majalah menyajikan sesuatu yang sangat lengkap dan menarik, baik dari segi visual, tulisan, dan material; hal yang terakhir tidak dapat saya temukan di majalah dalam bentuk lain—majalah digital.

Ya, saya sangat memperhatikan material. Itu sebabnya majalah yang biasa saya langgan adalah majalah cetak. Membaca sesuatu yang dapat saya rasakan langsung bentuk dan interaksinya—seperti membalik halaman, merasakan tekstur, dan mencium bau kertas—entah mengapa memberikan rangsangan tersendiri untuk terus hanyut “menghabiskan” sebuah majalah. Kadang, saya membeli majalah bukan untuk membaca tulisannya, melainkan hanya untuk melihat-lihat gambar dan iklannya.

Saya hampir tidak membaca majalah digital. Padahal dari segi harga, majalah digital memberikan penawaran menarik yang jauh lebih murah. Dari segi kepraktisan pun, majalah digital menyediakan hal itu. Namun, rasanya ada yang janggal dan kurang. Mungkin ini persoalan kebiasaan.

Itu saya. Setiap orang pastinya memiliki pendekatan berbeda terhadap apa yang ia baca dan pilihan medianya: cetak atau digital. Tidak terbatas pada majalah saja, tetapi juga pada koran, tabloid, bahkan buku.

paper-vs-digital

Harus diakui, media digital memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat masa kini yang serba cepat—praktis, luas, dan hemat. Informasi yang diberikan oleh media digital begitu up-to-date dan real time—meskipun banyak pakar bahasa dan media mempertanyakan akurasi informasi yang disampaikan. Terlepas dari perdebatan mengenai akurasi tersebut, masyarakat kita saat ini lebih membutuhkan kebaruan tersebut. Itu sebabnya, media digital mudah sekali naik daun dan secara “agresif” menggeser keberadaan media cetak. Tidak sedikit media cetak di seluruh dunia yang kemudian harus gulung tikar atau beralih ke digital untuk menghadapi revolusi ini. Dengan peningkatan jumlah media digital yang semakin pesat, sebenarnya masih pedulikah para pembaca dengan media cetak?

Jawabannya: masih.

Meskipun perkembangan media digital saat ini telah membawa perbaikan di banyak lini, media cetak menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh media digital, yakni keterlibatan. Lewat media cetak, pembaca diberi kesempatan untuk menikmati isi dan bentuk dengan lebih mendalam.  Dari situ, diharapkan ada kenangan atau keingintahuan lebih terhadap “sesuatu”. Selain itu, media cetak juga memberikan persepsi-persepsi tertentu melalui material yang digunakan. Hal-hal ini jika dimanfaatkan oleh seseorang atau merek tentu akan menimbulkan citra tersendiri. Banyak merek-merek premium dan figur publik memanfaatkan media cetak sebagai alat branding. Dan terbukti, masih ada kalangan pembaca yang menunggu-nunggu terbitnya buku atau majalah tersebut.

Untuk bisa bertahan, media cetak memang membutuhkan media digital, lebih untuk menjaga lini pemasaran. Media cetak dan media digital sesungguhnya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dengan demikian, ketika digunakan bersama-sama, mereka akan melengkapi kegagalan dan kekuatan masing-masing media. Media cetak memiliki keunggulan lewat interaksi fisik, keterlibatan, dan pengakuan. Media cetak juga dianggap memiliki kredibilitas tinggi, baik dari segi isi maupun bentuk, dibandingkan dengan media digital. Namun, media digital memiliki kekuatan lain yang terletak pada diskusi multimedia yang bebas, iklan murah, dan jangkauan pembaca yang luas.

Media cetak belum dan tidak akan pernah mati. Dan yang terpenting, ia akan terus menjadi sahabat yang baik bagi media digital.

Leave a Reply