Mau nulis buku? Jawab dulu 5W1H-nya.

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Sebelas tahun berurusan dengan dunia tulis menulis, barulah dalam tiga tahun terakhir, saya betul-betul tersadarkan betapa banyak orang kepengin nulis buku, atau tepatnya: kepengin punya buku dengan nama mereka pada sampulnya.

Buat apa Pak?
Biar saya bisa bikin seminar, Mbak.

Buat apa Bu?
Mendokumentasikan kenangan saja.  Siapa tahu menginspirasi orang lain.

Buat apa Mas?
Biar ada jejak. Buat loncatan karier.

Buat apa Mbak?
Biar beken. Saya pengen tahu rasanya diliput media, diwawancarai wartawan.

workspace-766045_1280

Daftar alasan menulis buku bisa lebih panjang dari sekadar celotehan diatas. Dan sungguh, tak ada yang salah. Kita semua bisa menulis buku untuk apa saja. Bahkan sampai kepada sesuatu yang personal: kumpulan surat untuk anak yang bisa ia baca saat kelak dewasa, yang kemudian dipublikasikan untuk khalayak.

“Kepengin sih, tapi saya bingung mau nulis apa. Semua rasanya berjejalan di kepala.”

“Mau sih, tapi saya bingung mau memulai dari mana.”

“Ehm, tapi kok rasanya saya enggak pernah sempat,ya.”

Dan kemudian, keinginan menulis buku jadi abadi dalam daftar resolusi yang diperbarui setiap tahun.  Sebab menulis tak cukup sekadar niat. Disiplin tinggi lah yang membuat sebuah buku berhasil dilahirkan.  Butuh kerja berjam-jam, serius, dan tak bisa sembari lewat.  Cita-cita menulis buku mestilah ‘di-konkritkan’ yang kemudian bisa diimplementasikan dalam rencana kerja.

Saat masih jadi wartawan, saya sangat familiar dengan istilah 5W1H. Ini alat yang paling mudah diikuti demi kelengkapan sebuah berita.  Saat mau menulis buku pun sama. Syarat 5W1H ini jadi alat paling mudah untuk membedah apa yang terasa ‘berjejalan di kepala’.

woman-728

What?
Apa niat dibalik cita-cita menulis buku? Mau nulis tentang apa? Apa genre-nya? Apakah itu hal yang kita suka? Atau hal yang sudah kita tahu? Apakah perlu riset dan observasi? Kalau nanti sudah jadi, akan setebal apa? Apakah akan dicetak hitam putih, atau justru berwarna? Ada ilustrasi, atau pakai foto? Berapa besar ukurannya?

Who?
Siapa pembacanya? Siapa yang kita inginkan jadi pembaca buku ini? Ada dimana mereka? Seperti apa karakter mereka? Seperti apa gaya komunikasi mereka? Siapa yang (kita harapkan) bakal moto-motoin buku kita dan share di media sosial? Siapa saja yang akan jadi pembaca pertama? Siapa yang kita percaya punya selera baca yang bagus untuk jadi kritikus pertama?

When?
Kapan draft harus selesai? Kapan buku ini akan diterbitkan? Kapan launching-nya?

Where?
Dimana saja buku ini bisa dibeli? Dimana saja buku ini diperbincangkan? Dimana saja buku ini akan didiskusikan? Dimana saja buku ini akan di-review?

How?
Bagaimana buku ini akan selesai diproduksi? Apakah mau melalui jalur indie publishing atau merayu major publishing? Bagaimana buku ini akan dipromosikan? Bagaimana buku ini akan dijual? Apakah dijual melalui toko buku atau direct selling?

Kalau semua pertanyaan itu dengan segala printilannya bisa dijawab dengan lengkap, ya bagus. Segera setelah itu, rencana kerja bisa dibuat.  Semakin detil, semakin baik.

Sekadar gambaran saja, untuk menulis 200 halaman buku ukuran standard (A5) berarti butuh sekitar 45 ribu kata draft yang sudah jadi. Jika kita berniat menyelesaikannya dalam waktu 3 bulan, maka satu bulan bisa ditarget 15 ribu kata. Jika satu bulan kita menulis dalam 20 hari saja, maka dalam satu hari butuh 750 kata. Atau mengetik sekitar SATU SETENGAH halaman A4 (saja).

Kalau sudah biasa menulis,  750 kata itu bukan persoalan besar. Satu jam juga beres, sudah termasuk mengedit dan membaca ulang.  Apalagi kalau sebelumnya sudah berbekal riset dan observasi. Pasti lebih cepat.

Kalau belum biasa menulis, ya dibiasakan. Segera duduk depan laptop dan mulai dengan mengetik bebas, tapi tetap patuh sesuai dengan outline. Dengan cara serupa,  kita bisa memanfaatkan 5W1H ini untuk membuat outline buku agar apa yang terasa berjejalan di kepala bisa segera terurai.

Selamat menulis buku pertama!

Leave a Reply