Mandiri Menerbitkan Buku, Mengapa Tidak?

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Bagi setiap orang yang gemar menulis, menjadi penulis profesional mungkin bukan impian utama. Namun, memiliki buku yang ditulis sendiri dan mendapatkannya di toko buku bisa jadi merupakan hal yang paling diimpikan. Tujuan utamanya, berbagi buah pikiran kepada banyak orang. Royalti penjualan buku jadi urusan nomor kesekian.

Jalan untuk membuat sebuah buku yang dapat dibaca banyak orang adalah dengan mengirimkan naskah ke penerbit untuk diterbitkan. Sayangnya, tidak semua penulis memiliki naskah yang dianggap layak untuk diterbitkan oleh penerbit konvensional atau penerbit besar. Pun sebenarnya layak, naskah tersebut belum tentu sejalan dengan visi misi penerbit dan keinginan pasar.

Penerbit, sebagai pihak yang bertugas untuk memodali penerbitan buku, tentu menginginkan modal yang telah dikeluarkannya bisa kembali secepat mungkin dan menghasilkan keuntungan besar. Itu sebabnya kebanyakan penerbit besar hanya bersedia menerbitkan naskah yang diperkirakan memiliki nilai jual yang tinggi atau yang akan sangat laris di pasaran. Di sinilah proses seleksi naskah yang ketat terjadi, dan biasanya naskah-naskah yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan ditolak oleh penerbit.

Belum lagi jika bicara mengenai royalti buku dan hal-hal admistratif yang berkaitan dengan pendapatan dan keuntungan. Meski bukan prioritas, hal-hal tersebut bisa menjadi sangat sensitif. Inilah yang menjadikan banyak penulis kemudian menyerah. Perlu ketekunan, keyakinan, dan keberanian untuk melewati lorong panjang agar naskahnya dapat terbit sebagai sebuah buku.

Itu dulu. Sekarang? Jelas jauh berbeda.

Kehadiran buku elektronik dan sistem penerbit mandiri atau self-publishing menjadi solusi sekaligus revolusi di dunia penerbitan, hampir di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, geliat penerbit mandiri sudah terlihat dalam sepuluh tahun terakhir. Melalui sistem penerbit mandiri ini, seorang penulis secara pribadi dapat mengambil keputusan langsung atas naskahnya untuk dibukukan tanpa memerlukan waktu yang lama. Penulis berfungsi sekaligus sebagai penerbit karena ia menerbitkan buku atas upaya dan biaya pribadi.

Self-Publishing

Sebagai “seorang” penerbit, maka semua hal yang berhubungan dengan penerbitan buku pun menjadi tanggung jawab si penulis; mulai dari praproduksi seperti penyuntingan, perancangan sampul dan isi buku, pengurusan ISBN, proses produksi atau pencetakan, hingga pemasaran, pendistribusian, konsinyasi di toko buku, promosi, dan sebagainya. Semua ini ditangani sendiri oleh penulisnya. Terdengar sulit? Sesungguhnya tidak.

Sebab dalam praktiknya, mandiri tidak berarti sendiri.

Semua hal terkait penerbitan ini dapat dikerjakan atau dibantu oleh orang lain. Tentu saja atas komando penulis sebagai pemilik naskah dan modal. Apakah buku akan dicetak secara konvensional atau dicetak secara elektronik, dijual di toko buku biasa atau di toko buku online, semua dikembalikan kepada keinginan penulis. Dengan bergerak secara mandiri, seorang penulis dapat menerbitkan bukunya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Jauh lebih cepat dibandingkan penerbit konvensional yang memerlukan waktu sekitar 6—10 bulan untuk menerbitkan satu buku, karena banyaknya naskah yang mengantre. Lewat sistem mandiri pula, penulis bisa memiliki kontrol langsung atas hak-haknya, termasuk hak cipta dan hak publikasi. Bukankah ini menyenangkan?

Satu-satunya pertanyaan mengenai karya self publishing ini ialah terkait kurasi karya. Siapkah pasar melakukan seleksi secara natural ketika selera pasar pun (kadang) masih dipertanyakan?

Harus diakui, banyak karya self publishing  yang tergolong buruk alias tak layak terbit terkait konten, tata bahasa dan salah eja. Namun tak sedikit juga yang bisa diterima khalayak luas. Kritik atas kualitas karya self publishing masih bisa diperdebatkan. Toh penerbit besar yang sudah mapan pun juga ‘sering kecolongan’ menerbitkan karya yang ‘berantakan’.

Jadi, bagaimana? Berani mandiri menerbitkan karya sendiri?

 

Leave a Reply