Katalog Produk yang Dicintai

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Katalog produk bisa jadi sampah, atau koleksi. Bagaimana membuat katalog produk yang dicintai banyak orang?

Umumnya orang tak suka iklan. Kita sering membuang brosur produk atau jasa, apalagi jika kita merasa tak membutuhkan. Namun ada brosur iklan yang kita suka lantaran desainnya. Atau informasinya.

Dulu, zamannya Adrack masih dapat ditemui di sejumlah mal di Jakarta, saya sering menyimpan post-card yang sesungguhnya iklan produk, atau resto, hanya karena desainnya menarik. Saat kebetulan lewat resto yang dimaksud, saya masuk ke dalam, memesan makanan, mencari pengalaman. Tapi ada juga post card yang berakhir sebagai simpanan dalam kotak. Atau digunting, diubah bentuk menjadi wujud lain. Yang jelas, tak langsung terbuang.

Katalog juga demikian. Saya sering memberikan katalog produk kosmetik yang sudah tak terpakai kepada tukang sayur. Tapi ada satu atau dua katalog produk furniture yang saya simpan bertahun-tahun. Bahkan saat tokonya belum ada di Indonesia, saya sering loh sengaja membeli katalog bekas di Cikapundung, Bandung. Kenapa? Sebab katalog itu tak semata jualan barang, tapi memberikan visi. Menawarkan imajinasi. Begitu tokonya tersedia, mereknya sudah terekam kuat di kepala.

 

MR POTTER 

Seorang teman yang bergelut di dunia fesyen juga selalu girang saat menerima kiriman tabloid Mr Potter Post langsung di apartemennya. Tabloid itu, meski dimaksudkan secara halus sebagai katalog jualan, terlalu sayang untuk dibuang. Kertasnya bagus, HVS impor yang tak terlalu putih dan masih terasa seratnya. Cetakannya juga terlihat sempurna. Warna-warnanya matang, tak terlalu gelap.

post1
Pic:2.bp.blogspot.com/

Tabloid Mr Porter Post sesungguhnya ialah sebuah newsletter pemasaran milik Net-A- Porter, sebuah situs belanja fashion. Khusus menarget pria, tabloid Mr Porter didesain modern, dan artikel yang mendalam mengenai profil para pria kreatif dan sukses, serta tips tampil mengesankan. Tabloid ini mengedepankan gaya penulisan brand journalism.  Artikel dan features disajikan harmonis dengan produk jualan. Upaya ‘jualan’ terasa begitu sayup dan menggoda lembut para pembaca. Menerbitkan impian untuk menjadi bagian dari konsumen Net-A-Porter.

Jauh sebelum tabloid Mr Potter terbit, sudah ada majalah Porter. Katalog tebal yang berwujud majalah cantik itu segera memposisikan mereknya untuk perempuan yang ‘smart and stylish’. Mereka punya versi digital namun tetap menyediakan versi cetak. Langkah itu dinilai berhasil, maka dilanjutkan oleh tabloid Mr Porter Post. 

Tabloid ini dicetak dua bulan sekali, dan didistribusikan ke seluruh dunia 130 ribu eksemplar. Penulisan yang baik, storytelling yang kuat, serta visualisasi yang bermakna, telah terbukti membawa majalah dan tabloid untuk pemasaran merek ini, ke tingkat yang lebih tinggi.

Dan menariknya, katalog ini tidak gratis. Biaya berlangganan katalog cantik ini USD48 untuk 6 edisi. Mereka juga masih menjual space iklan. Sebagai gambaran, biaya ini lebih mahal ketimbang besar tagihan Vogue untuk satu tahun langganan.

 

Apa yang terjadi pada Porter dan Mr Porter mungkin terkesan ‘anomali’ dari banyaknya studi yang menunjukkan kemenangan media sosial dalam menggaet perhatian konsumen. Hampir semua brand berlomba-lomba tampil dan diingat. Tentu saja kita berterimakasih atas kekuatan media sosial telah mendekatkan jarak dengan konsumen. Namun yang menarik dicatat: diantara gencarnya upaya brand mengoptimalkan media sosial, ternyata majalah dan tabloid tak akan bisa diabaikan sebagai jalur komunikasi pemasaran.  Biaya produksi yang tak sedikit memang jadi pertimbangan perusahaan, tapi media cetak tak bisa semata-mata dimusnahkan. Godaan visual itu ada pada sesuatu yang bersifat ‘fisik’, sesuatu yang bisa dipegang dan dirasakan. 

Pic: IndustryFiles
Pic: IndustryFiles

Bukan cuma Net-A-Porter yang sukses mengangkat media promosi mereka ke level yang tak terbayangkan sebelumnya. Editorialist pun mencatat sukses serupa. Di Swedia, majalah Acnepaper yang dimiliki jaringan ritel fesyen Acne juga mendulang keberhasilan. Jusru ketika di majalah itu tak banyak bicara tentang produk mereka.

Kata Mikael Schiller, direktur Acne kepada New York Times, “We are doing this in the format of this magazine to spend money on a project that helps build great creative relationships and at the same time sends out a message that people all over the world respond very positively to.”  

Ya, Schiller benar. In the end, great content is an opportunity to tell the story of a brand.

 

Leave a Reply