Kapan Saatnya Membuat Tulisan Baru dan “Move On” dari Naskah Lama?

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Saya sering sekali berada pada situasi ketika tidak pernah bisa puas dengan satu tulisan, terutama untuk tulisan-tulisan panjang. Saya sudah “merasa” selesai menulis, tetapi ketika membaca ulang, keinginan untuk melakukan revisi terasa sangat besar. Akhirnya saya mencari pendapat, mengumpulkan inspirasi, melakukan riset ulang, lalu merevisi dan mengedit tulisan lagi. Begitu terus menerus yang saya lakukan—mencari kesempurnaan—sampai akhirnya tulisan itu tidak pernah jadi sama sekali.

ID:42906883

Saya yakin semua penulis pernah memiliki masalah seperti ini, kecuali yang sudah dikejar deadline. Ya, pada akhirnya, revisi-revisi yang dilakukan atas karya saya justru selalu disudahi oleh tenggat waktu.

Betapa hebat waktu bicara!

Dan seringkali, hal itu membuat saya tidak puas dengan karya saya. Mungkin saat ini Anda juga sedang mengalaminya: magnum opus Anda hanya sampai sebatas draft.

Percayalah, semua penulis tidak akan pernah benar-benar merasa selesai dengan tulisannya dan selalu tergoda untuk tetap kembali mengerjakannya hingga entah kapan. Mungkin ini adalah salah satu bentuk dari naluri dasar manusia yang tidak pernah bisa puas.

Tak ada yang salah dengan hal ini.

Banyak penulis besar menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berjuang menyelesaikan karya yang akhirnya tidak jadi juga. Dan itu adalah pilihan bagi masing-masing penulis: menyelesaikan tulisannya dengan segala keterbatasan agar bisa membuat karya baru atau mencari kesempurnaan—membuat magnum opus.

Kadang-kadang, hal terbaik yang dapat dilakukan setiap penulis untuk menstabilkan karier menulisnya adalah dengan menunda proyek yang sudah berjalan—dan tidak kunjung selesai itu—lalu “memulai kehidupan baru”. Jujur saja, saya pun seringkali merasa sulit untuk hengkang meski sebentar dari tulisan-tulisan saya. Apalagi jika kemudian sudah memiliki “kedekatan imajiner” dengan tokoh-tokoh maupun topik-topik yang diangkat. Namun, ada beberapa hal yang perlu diingat ketika Anda bertanya kepada diri sendiri, “Haruskah saya tinggalkan ini, atau sebenarnya saya sudah bisa memulai yang baru?”

overcoming_writers_block

  1. Kuantitas mengalahkan kualitas (Quantity over quality)
  2. Meskipun tidak berlaku pada beberapa hal, apa yang disebut “quantity over quality” justru lebih bekerja dalam hal menulis. Semakin sering seseorang menulis dan berani mempublikasikannya, kemampuannya justru akan semakin baik dalam mengejar kualitas yang diharapkan. Reaksi pembaca, kritik dari para ahli, serta tuntutan pasar akan membuat kepekaan menulis seseorang terasah. Penulis bisa mengetahui apa yang salah dan apa yang kurang tepat justru dari reaksi yang diberikan atas bukunya. Jika terus-terusan bergumul dengan diri sendiri, kapan penulis bisa berproses kreatif?

  3. Bertahan pada satu tulisan menghambat proses kreatif
  4. Seperti sudah saya sampaikan di poin pertama, jika terus-terusan bergumul dengan diri sendiri, kapan penulis bisa berproses kreatif. Mungkin sebenarnya Anda telah membuat sebuah pekerjaan terbaik—magnum opus. Namun, karena terjebak oleh ketidakpuasan, Anda hanya bisa merenung kapan Anda bisa membuat sebuah magnum opus tersebut. Padahal, pada proses kreatif lah seorang penulis bisa menumpahkan ide-idenya dan mengasah kemampuan menulisnya.

    Stephen King adalah salah satu penulis yang banyak digemari oleh banyak orang, dan ia adalah seorang yang sangat produktif. Hingga saat ini, ia telah menerbitkan lebih dari 50 karya. Kualitas karya-karyanya jelas tidak perlu dipertanyakan. Di Indonesia, Anda bisa menyebutkan Sitor Situmorang. Dalam hidupnya yang panjang, ia menjadi seorang penulis dan pengarang yang membuahkan banyak sekali karya—esai, puisi, prosa—dan konsistensi kualitasnya diakui oleh banyak kritikus sastra. Produktivitas yang tinggi dari para penulis ini justru membuat karya-karya mereka semakin mendapat sambutan baik.

  5. Jangan terlalu emosional pada karya
  6. Siapa pun mungkin akan setuju bahwa membuat karya menempuh tantangan yang sama seperti ketika membesarkan anak. Pikiran, tenaga, dan segenap perasaan dicurahkan untuk membuat karya terbaik yang layak dipublikasikan. Hal ini tentu baik, tetapi seringkali seorang penulis terlalu lekat dengan tulisannya sampai-sampai tidak bisa “mengenali” suaranya sendiri. Akhirnya, tulisan yang dibuatnya malah ngalor-ngidul, tidak dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Revisi pun dilakukan berkali-kali sampai tidak tahu kapan harus berhenti.

    Berjarak lah, dan Anda akan menemukan apa yang benar-benar Anda cari dan inginkan dari tulisan Anda. Banyak penulis pemula berpikir jika mereka “meninggalkan” naskah mereka, mereka mengakui kegagalan dalam menulis. Padahal sebaliknya, memulai sebuah proyek baru bukanlah sebuah kegagalan. Tidak pernah ada kalimat yang Anda tulis dengan sia-sia.

     

    Jadi, jika Anda merasa telah melakukan banyak revisi tetapi tidak segera menemukan apa yang Anda cari, segera tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah sudah saatnya move on?”

    Atau…… mungkin Anda bisa mendapatkan bantuan seorang editor untuk membantu menyelesaikan masalah Anda. Tidak ada salahnya mencoba, kan?

Leave a Reply