Jika Sukses Lewat Self Publishing, Apakah Hal yang Sama Juga Akan Diraih Lewat Major Publishing?

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Ada kabar menakjubkan dari dunia perbukuan dunia. Karya terbaru E.L. James, Grey: Fifty Shades as Told By Christian, yang masih merupakan serial dari Fifty Shades telah menembus penjualan lebih dari satu juta kopi di minggu pertamanya. SATU JUTA KOPI di MINGGU PERTAMA. Angka yang fantastis. Sangat sangat fantastis. Jika mau dirinci lebih jauh, Grey terjual 647.401 kopi dalam 3 hari—angka ini mengalahkan rekor The Lost Symbol karya Dan Brown yang pada tahun 2009 terjual 551.000 kopi dalam 5 hari. Padahal, buku yang diterbitkan oleh Penguin Random House ini baru dirilis pada 18 Juni lalu. Pada hari keempat, buku ini terjual lebih dari 1,1 juta kopi di semua edisinya: edisi cetak, e-book, maupun audiobook.

A woman takes a copy of the novel "Fifty Shades of Grey" from a shelf at a book shop in central London on July 19, 2012. It's a literary phenomenon: with nearly 40 million copies sold, "Fifty Shades of Grey", an erotic romance spiced up with sado-masochism is well on its way to breaking all the records.  AFP PHOTO / WILL OLIVER        (Photo credit should read WILL OLIVER/AFP/GettyImages)

Meski menuai banyak kritik tajam dari pengamat sastra dan kritikus sastra, serial Fifty Shades adalah satu dari sekian banyak contoh buku yang telah berhasil mengguncang dunia perbukuan. Yang menarik, Fifty Shades berawal dari penerbitan mandiri sebelum akhirnya diterbitkan oleh penerbit mayor. Bahkan hingga sekarang, serial dewasa ini telah terjual lebih dari 125 juta kopi di seluruh dunia. Bayangkan saja. Para akademisi sastra mungkin sedang geleng-geleng kepala: cerita stensil ternyata akan selalu laku di sepanjang masa.

Tentu kita tidak harus belajar menulis cerita erotis jika ingin membuat buku yang laku di pasaran. Dan tentu saja bukan itu hal yang akan kita bahas di sini.

Sudah banyak penulis selain E.L. James yang memulai debutnya lewat self-publishing. Sebut saja: Amanda Hocking, Michael Sullivan, Lisa Genova, dan masih banyak lagi. Karya-karyanya pun cukup mendunia, paling tidak mendunia di dunia maya (baca: e-book dan toko buku online), dan ada yang sudah diangkat ke layar lebar.

Berkaca pada kesuksesan penulis-penulis ini, kita akan setuju, self-publishing adalah cara termudah dan terbaik pada masa sekarang untuk bisa menerbitkan buku sendiri tanpa perlu merasakan sakitnya mendapat penolakan dari banyak penerbit besar.

Buat apa berlama-lama memeram naskah di penerbit, jika akhirnya hanya akan dikembalikan ke meja pribadi di rumah? Akan lebih mudah jika mengirim naskah baru  beserta contoh karya yang sudah ada, bukan? Maka dalam konteks ini, self-publishing berperan sebagai batu loncatan sekaligus menjadi pembuktian bahwa seorang penulis telah benar-benar menulis. Tentu saja, mereka akhirnya memiliki buku. Buku ber-ISBN, sebagian di antaranya pun dicetak. Bukankah pencapaian seorang penulis adalah ketika akhirnya ia memiliki buku (hal ini jadi pengecualian untuk Umbu Landu Paranggi, mungkin)?

Tapi, apakah setiap penulis sudah cukup puas jika bisa menerbitkan buku sendiri lewat self-publishing?

Kebanyakan penulis mungkin sudah puas, tetapi penerbit mayor akhirnya melihat pencapaian mereka sebagai sesuatu yang berbeda.

Akhirnya mereka menyadari bahwa penulis yang pernah mereka tolak adalah gudang emas. Sebagian lagi mungkin secara tulus mengakui bahwa penulis yang pernah mereka tolak adalah berlian yang kurang diasah. Itu sebabnya, bukan tidak mungkin ketika buku yang tadinya diterbitkan mandiri kemudian diterbitkan oleh penerbit mayor. Apakah menguntungkan keduanya? Ya, tentu saja. Kita tidak bisa memungkiri kekuatan penerbit mayor dalam soal pendistribusian. Seorang penulis memiliki kemungkinan lebih besar untuk melambung namanya ketika sudah diakuisisi oleh penerbit mayor. Bagi penerbit mayor pun, dengan basis penggemar yang dimiliki oleh si penulis, upaya balik modal menjadi lebih mudah. Bagaimana dengan royalti? Bukankah royalti yang diterima seorang penulis dari penerbit mayor lebih kecil jika dibandingkan dengan penerbit mandiri? Kembali lagi, jika bicara soal keuntungan, ini adalah kebutuhan masing-masing penulis, dan menjadi pilihannya sendiri.

Apa yang dicapai oleh E.L. James lewat Fifty Shades-nya adalah pembuktian dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Jika Anda memiliki naskah, atau paling tidak ide cerita, segera tuliskan. Lalu bukukan. Apabila Anda serius dalam menulis, maka bukukan karya Anda sebanyak-banyaknya, dan kirimkan pada penerbit. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama seperti James, Anda juga.

Leave a Reply