Jika Inspirasi Enggan Menghampiri, Jemput Saja!

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

“Aku tidak tahu mau nulis apa. Gak ada inspirasi.”

Pernyataan seperti ini cukup sering dilontarkan oleh para penulis, baik yang masih pemula maupun yang sudah berpengalaman. Para penulis sering berada di situasi ketika inspirasi datang seperti kilat yang melintas: dialog-dialog rumit nan puitis berkelebat, tokoh-tokoh bermunculan dengan riuh, dan mendadak semuanya hidup di dalam kepala. Namun, seperti terjaga dari mimpi, hiruk pikuk inspirasi yang sempat memenuhi kepala tadi tiba-tiba lenyap begitu saja ketika duduk di depan komputer. Pernah mengalaminya?

Oh, dan jangan salah. Situasi seperti ini—kehilangan inspirasi—bukan hanya dialami oleh penulis fiksi, tetapi juga penulis nonfiksi. Banyak akademisi yang akan menulis makalah maupun jurnalis yang akan menulis artikel kehilangan kata-kata yang ingin dituliskan secara mendadak. Padahal riset dan wawancara sudah tuntas dilakukan, dan sesungguhnya mereka telah membayangkan di dalam kepala apa yang akan ditulis; sementara itu deadline telah menanti dan waktu tidak lagi menjadi teman yang ramah.

Kehilangan inspirasi dan atau ketiadaan inspirasi adalah masalah bagi hampir semua penulis. Namun, ini adalah hal yang wajar. Sangat wajar.

Now-Learn-How-to-Conquer-Your-Writers-Block-and-Summon-Inspiration-820x380

Terlepas dari kenyataan bahwa 99% penulis memiliki pengalaman ini, Philip Hensher, seorang profesor di bidang penulisan kreatif dari Bath Spa University, pernah menyebutkan dalam sebuah artikelnya bahwa tulisan yang baik adalah perpaduan antara kalkulasi dan insting—atau inspirasi yang sering dianggap tiba-tiba saja jatuh dari langit. Bagi Hensher, sesungguhnya tidak ada satu penulis pun yang mengandalkan 100% inspirasi. Menyimpulkan pendapat Hensher secara sederhana, yang disebut para penulis sebagai “inspirasi” sebenarnya adalah bentuk lain dari konsistensi latihan menulis: banyak membaca, banyak berdiskusi, dan banyak mencoba menyusun kalimat. Konsistensi—yang dalam hal ini dapat mengandung makna disiplin dan pantang menyerah—akan menggiring penulis untuk mengeksplorasi apa yang paling ia ingin utarakan dalam tulisannya, mulai dari tema, perbendaharaan kata, struktur, dan unsur-unsur penting lain dalam tulisan. Inilah yang dimaksud menjemput inspirasi agar dapat mulai menulis.

Which-Is-More-Important-Writing-or-What-We-Write-820x380

Banyak penulis pemula kemudian bertanya, “Sebenarnya bagaimana caranya memulai sebuah tulisan yang baik?”. Di kelas-kelas pelatihan menulis kreatif, pada dasarnya yang diajarkan bukan cara menulis yang baik, melainkan kepekaan terhadap sebuah tulisan yang baik. Dari situlah kemudian para penulis bisa menemukan inspirasinya sendiri. Pelatihan menulis tidak mengajarkan “bagaimana membuat inspirasi datang”, melainkan “bagaimana menjemput inspirasi”. Menjemput inspirasi tentu berbeda dengan memaksaan keberadaan inspirasi, dan ini adalah proses yang berbeda bagi setiap penulis.

Ketika seorang penulis telah menyadari bahwa seringkali inspirasi enggan menghampiri, maka penulis harus menjemput inspirasi dengan cara sekreatif mungkin. Carilah tempat senyaman mungkin untuk menulis. Lalu, teruslah menulis dan menulis sebebas mungkin, tanpa terpaku oleh apa yang baik dan yang tidak. Ketakutan menulis sesuatu yang “buruk” hanya akan membuat Anda berhenti menulis dan semakin kehilangan inspirasi. Terus menulis adalah langkah pertama untuk menjemput inspirasi, bukan?

Mari menulis![custom_heading center=”true”]Heading[/custom_heading]

Leave a Reply