Limited Screening Sprited Away: Fall in love, again… and again to Studio Ghibli

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Studio Ghibli merupakan nama tak asing bagi penggemar anime. Dalam #ArkeaAkhirPekan kali ini, Angita Amanda, Art Director Arkea berbagi pengalaman serunya Sabtu (20/8) lalu. Ia menjadi satu dari 150 orang yang terpilih menonton film Spirited Away bersama tim Studio Ghibli di Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Angie, begitu ia biasa dipanggil, memang tergila-gila pada karya-karya Studio Ghibli sejak kecil. Makanya, ketika ada kesempatan “Limited Screening: Spririted Away” dengan mengisi survei, ia mengerjakannya nyaris seperti menjalankan sebuah ritual spritual yang emosional. Dari sekitar 3500 survei yang dikirim, Angie mendapatkan kesempatan itu. Tentu, bukan kebetulan. 🙂

Q: Ngie, cerita dong, sejak kapan nge-fans karya-karya Studi Ghibli? 

Awal ketertarikan saat saya umur 5 tahun.

Mengenang  perkenalan perdana saya dengan film-film karya Studio Ghibli sukses membuat saya nyaris nangis. Sungguh luar biasa. Tidak semua film animasi bisa menimbulkan reaksi sejenis ini. Film Ghibli pertama yang saya tonton adalah Kaze no Tani no Nausicaa (bahasa Inggris: Nausicaa of the Valley of the Wind), saat zaman-zamannya rental kaset anime masih booming, dan nongkrong di situ sepulang sekolah hukumnya fardu ‘ain.

Film dari Studio Ghibli: Kaze no tani no Naushika
Movie poster for “Kaze no Tani no Nausicaa

Q: Apa film dari Studio Ghibli yang paling kamu sukai

Sampai sekarang,  serius, saya enggak bisa jawab. Kenapa? 

when pixar touch your heart, ghibli touch your soul.

Tapi yang paling membekas adalah “Only Yesterday”

Dalam anime garapan Studio Ghibli, nggak ada tokoh yang pure jahat, sebagaimana yang sering kita jumpai dalam sinetron pada umumnya. Aneh, ya?

Di film-filmnya Studio Ghibli, para tokoh utama wanita bukanlah seorang damsel in distress yang harus diselamatkan oleh pangeran berkuda. Para heroine Ghibli adalah pekerja keras yang mempunyai tujuan dan kemauannya sendiri; dicintai bukan karena menawan, tapi karena tingkah dan tindakan mereka.

Q: Apakah karya-karya Studio Ghibli mempengaruhi pilihan hidup kamu mendalami desain grafis?

Tentunya, bayangin aja satu film yang mereka bikin dengan kurang lebih 170.000 gambar tangan (manual).
Selain mengubah persepektif hidup, Ghibli bener-bener bikin saya makin yakin buat ngambil desain (saat kuliah). Karena lewat cara ini kita bisa berbagi hal lain di dunia yang mungkin enggak dipikirin orang lain. hahaha.
Spirited Away #GhibliJKT

 

Q:  Nah, cerita dong event #GhibliJKT Sabtu kemarin. Gimana proses kamu jadi salah satu dari 150 orang yang ikutan Limited Screening: Spirited Away. 

 

Sebagai salah satu manusia yang nangis saat menonton sejumlah film-film karya Studio Ghibli, saya tentu tidak ketinggalan untuk turut mengisi survei yang disediakan. Pada bagian pertama survei kita diharuskan mengisi biodata. Itu mah gampang, lah. Toh, mana mungkin saya ngaku-ngaku sebagai Mia Wasikowska atau Kitagawa Keiko.

Tetapi masalah muncul waktu ada dua pertanyaan terakhir dengan kolom jawaban berformat esai: “Why do you love Ghibli films?” dan “If you have the chance to meet people from Studio Ghibli, what would you say to them?”

Kurang lebih seperti itu karena saya agak lupa verbatim pertanyaannya, but you get the gist of it.

Dan pada dua pertanyaan itu,  tangan saya seperti mengambang sebentar di atas permukaan keyboard. Terus terang, itu bukan hal yang mudah untuk dijawab. Banyak hal bergumul kusut dalam hati saya setiap kali ditanya “Kenapa sih elo suka film-film Ghibli?”

Menjelaskannya,  membutuhkan sedikit kerja ekstra.
Tapi, sekian detik kemudian saya menulis. Mata saya memanas. Dada saya menyesak.

2016-08-18-PHOTO-00000993 copy

 

Dan anehnya, makin jauh saya mengisi survei untuk mengikuti event #GhibliJKT, saya makin ikhlas.

Tidak ada perasaan harus menang. Berharap, masih. Tapi tidak banyak.

Selesai mengisi survei dan menekan tombol ‘Submit‘, entah kenapa terasa seolah ada beban luar biasa hebat yang dilepaskan dari dada saya. Rasanya seperti berhasil menyampaikan pengakuan yang sudah dipendam bertahun-tahun karena tidak pernah tahu harus disampaikan kepada siapa, kapan, dan dalam momentum apa.

Harapan saya hanya satu: apa yang saya tulis bisa sampai kepada orang-orang Studio Ghibli.

hence, I wrote this tweet.

Honestly, I think my odds to win #GhibliJKT ticket are small. And it’s okay. I’m just wishing they’d read my “Why do you love Ghibli films”.

Apalagi ternyata jumlah total survei yang masuk mencapai lebih dari 3500 entri. Dan menjadi 150 orang terseleksi dari 3500, bukan hal yang sepele juga sih. 

so there comes another reason to be “legowo” from the very start.

out of curiosity, I opened the link directed to @kaningapictures Instagram account.

and my breath literally caught in my throat for five whole seconds when I saw this part:

#GhibliJKT Survei

and then August 20th came.

Saya datang ke lokasi (Cinema XXI Plaza Senayan) beberapa jam lebih awal.

Alasannya cukup banyak.
Pertama, saya kena 
pre-event anxiety attack jika berlama-lama di kamar kost. Jadi, mendingan sekalian saja berangkat. Kedua, antisipasi kalau-kalau saya kesasar dalam mal, mengingat track record nyasar di mal selama ini cukup impresif.

Registrasi saat event #GhibliJKT

Suasana di meja registrasi ulang, mirip-mirip seperti mengisi buku tamu kondangan. Yang perlu dilakukan peserta pemenang survei hanya menunjukkan bukti berupa e-mail yang diterima dari Kaninga Pictures, lalu tanda tangan di daftar nama yang sudah disediakan. SURPRISE SURPRISE : dapat merchandise dari Studio Ghibli berupa keychain!

Keychain, merchandise #GhibliJKT

Sen to Chihiro no Kamikakushi (Spirited Away) ini adalah film ketiga Ghibli yang bisa saya tonton di layar lebar. Rekor dipecahkan oleh Karigurashi no Arietty (bahasa Inggris: The Secret World of Arietty), kali kedua adalah Kaze Tachinu (bahasa Inggris: The Wind Rises), diputar di blitzmegaplex, sebelum namanya berubah jadi CGVblitz.

 

Jadi,  rasanya bagaimana, Sen to Chihiro no Kamikakushi dengan sentuhan teknologi bioskop?

SUNGGUH MEMESONA. Karigurashi no Arietty was beautiful and mesmerizing all right, but Sen to Chihiro no Kamikakushiwas… breathtaking.  Now I know why this masterpiece won an Oscar

Scoring dari Hisaishi-sensei terdengar luar biasa jelas, not even my headset could compare, dan saya hampir saja nangis berleleran gara-gara intensitas yang ditimbulkan.

now, straight to the dessert:

special attendance of Studio Ghibli team members, and Suzuki Toshio-sensei.
(trivia: we sang “Happy Birthday” together the moment he and his team entered the studio!)

IMG_0483

CqTDqa7UEAAyPqP

#GhibliJKT
Suzuki-sensei was signing my insignificant piece of paper.
(he’s so humble and highly-spirited I wanted to weep from respecting someone so much)

Thank you, Suzuki Toshio-sensei and Studio Ghibli team members, for your willingness to visit Indonesia. Thank you very much, Kaninga, for making this miracle-like event came true. Thanks to you too, Mbak Ines (and other people who I can’t mention) who carefully read my words on the survey sheets and decided to give me this opportunity. It means so much to meand I earnestly hope  #GhibliJKT event won’t be the last.

Leave a Reply