Crowdfunding untuk Buku

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Pernah mendengar nama Jon Yongfook?

jon-640x360Jika belum, ia ini adalah seorang entrepeneur muda dari Singapura, CEO dan pendiri sebuah aplikasi media sosial bisnis, Beatrix. Sehari-harinya, Yongfook hanya terbiasa “menulis” software dan membangun networking pemasaran. Sebagai seorang entrepeneur, Yongfook sering memberikan mentoring, seminar, dan berbagai tips terkait dengan kewirausahaan. Ia bukan seorang penulis buku, hingga suatu hari ia mendapat saran untuk menuliskan pengalamannya membangun perusahaan startup.

Akhirnya, jadilah ia menuliskan Growth Hacking Handbook, sebuah buku berisi 100 taktik menjalankan startup. Mungkin sampai bagian ini Anda merasa, “Apa bedanya Yongfook dengan startup entrepeneur lainnya? Bukankah banyak entrepeneur yang juga menulis buku?”

Ya, benar, tetapi Yongfook memiliki cara yang berbeda untuk membuat orang lain membeli bukunya. Ia menggunakan sistem crowdfunding. Bahkan, dengan sistem ini, ia berhasil mendapatkan dana sebesar $12,775 dalam waktu 30 hari.

Bagaimana sistem crowdfunding yang dijalankan oleh Yongfook? Cara kerjanya sangat mudah: ia membuat target penggalangan sebesar $10,000, atau 400 buku untuk satu buku berharga $25. Jika dalam satu bulan target 400 buku tidak terpenuhi, maka Yongfook tidak akan menulis bukunya, Growth Hacking Handbook tidak akan dirilis, dan dana yang telah dikirimkan akan dikembalikan kepada para pemesan. Dengan cara ini, Yongfook berhasil membuat orang-orang penasaran dan pada akhirnya memutuskan untuk “menyumbangkan” uangnya agar ia dapat menulis buku. Cara yang cerdik, kan?

crowdfunding

Crowdfunding atau penggalangan dana sebenarnya telah lama menjadi cara yang populer bagi para filantropis, investor, musisi, dan seniman untuk mengumpulkan uang dan mengembangkan minat masyarakat pada pekerjaan dan karya mereka. Bisa dibilang, crowdfunding juga memiliki fungsi publikasi karena menjangkau dan menyebar ke banyak orang. Jika pada para investor, musisi, dan seniman hal itu dimungkinkan, maka bukan tidak mungkin jika crowdfunding juga bisa diterapkan oleh para penulis.

Crowdfunding buku pada dasarnya melibatkan sistem pre-order untuk mengetahui atau mengetes permintaan pasar.

Jika ada ketertarikan yang cukup untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka si penulis akan menulis dan menerbitkan buku. Metode semacam ini jelas memberikan beberapa manfaat bagi penulis: penulis tidak perlu takut rugi atau kehilangan modal, penulis mengetahui persis berapa buku yang akan dicetak, dan tidak ada kewajiban untuk menulis sebuah buku jika Anda tidak mendapatkan pasar yang cukup.

Jika Anda sedang ingin menulis buku dan ingin mempertimbangkan sistem crowdfunding untuk buku Anda, maka mempelajari kampanye Yongfook mungkin bisa ditiru untuk membantu Anda meraih sukses serupa. Saya akan membagikan caranya pada kesempatan lain.

Leave a Reply