Content Marketing vs Brand Journalism: Barang apaan sih ini?

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Istilah content marketing umumnya melekat pada kerja tim pemasaran. Sementara brand journalism lebih dekat dengan kerja divisi kehumasan. Apa bedanya?

Content Marketing, seperti dikutip dari Content Marketing Insitute, 

The practice of creating relevant and compelling content in a consistent fashion to a targeted buyer, focusing on all stages of the buying process, from brand awareness through to brand evangelism.

Jadi, yang namanya content marketing, diniatkan untuk menarik calon konsumen tanpa bersifat ‘hard selling’. Content marketing dimulai dari tahap paling awal sebuah proses pembelian (buying process).

“Content marketing ialah tentang berbagi informasi mengenai manfaat produk/jasa kepada audiens, dan mengedukasi klien potensial. Konten ini bukan tentang produk/jasa Anda, tapi tentang topik-topik yang mendukung produk/jasa yang Anda jual,” jelas Victoria Harres, Wakil Direktur Komunikasi Strategis PR Newswire.

Dengan begitu, content marketing bertujuan meningkatkan kebutuhan produk atau jasa melalui informasi yang berguna kepada audiens.

 

Brand Journalism 

 

 

Beberapa perusahaan mulai mempekerjakan jurnalis freelance atau bahkan membangun tim redaksi sendiri untuk membuat konten dengan gaya editorial. Fokusnya ialah membuat konten yang menarik dan bermanfaat bagi target audiens brand, sehingga menciptakan impresi tersendiri atas brand tersebut. Pendekatan brand journalism yang dilakukan oleh General Electric, misalnya, telah melahirkan media online yang mengusung isu mutakhir dalam bidang sains dan teknologi.

Memang, muncul beberapa pendapat bahwa brand journalism sangat bias dan tidak objektif karena ujung-ujungnya pasti menjual produk/jasa perusahaan. Tapi Direktur Layanan Komunitas Online  untuk ProfNet dan PR Newswire for Journalist tak sependapat. “Konsumen menginginkan lebih dari perusahaan, tidak terbatas pada produk dan servis mereka saja. Mereka ingin perusahaan juga care, atas impian, tujuan dan hidup mereka. Jika pendekatan brand journalism dilakukan secara tepat, perusahaan akan lebih terhubung dengan pelanggan ketimbang melalui iklan,” katanya.

Perez lalu mengajukan beberapa contoh. P&G Everyday (Procter & Gamble), Backing America’s Backbone  (U.S. Cellular) dan HSBC News and Insight  (HSBC Holdings) telah terhubung dengan jutaan pelanggan mereka dengan berbagi tips dalam parenting, personal finance, dan business management. Artikel-artikel itu ditulis oleh jurnalis profesional dan kualitasnya dapat bersaing dengan media-media tradisional.

Tujuan brand journalism ialah untuk menemukan dan mengisahkan cerita yang dapat menampilan ‘kepribadian’ brand.

Kesimpulan

Dalam praktiknya, content marketing dan brand journalism tidak sama. Dengan memahami apa kesamaan dan perbedaan antara content marketing dan brand journalism, tim PR dan pemasaran dapat mendefinisikan target secara spesifik dan terukur.

Leave a Reply