Bunyi-bunyi Sumber Inspirasi

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Tempat yang ramai dan berisik biasanya dihindari penulis ketika “sedang asyik” dengan karyanya. Kebanyakan penulis memilih mengerjakan karyanya di tempat yang sepi dan hening, bahkan kalau memungkinkan, mereka bekerja di dalam kesendirian. Pun belakangan ini kafe atau bar sudah menjadi tempat pilihan untuk menulis, banyak di antara para penulis tetap memilih untuk mojok, mengasingkan diri dari bangku-bangku ramai, atau sekalian mencari kafe sepi—yang penting ada colokan kabel. Bagi banyak penulis, keheningan memberikan kesempatan untuk lebih berkonsentrasi dan lebih intim dengan karya.

working-in-a-coffee-shop

Stephen King misalnya, selalu menyarankan para penulis muda untuk mengeliminasi distraksi dan mematikan TV. Jonathan Franzen telah dikenal selalu menulis di ruangan tanpa satu pun barang elektronik dan koneksi internet. Mungkin Anda pun termasuk penulis yang selalu sulit tidur cepat karena ide-ide selalu menghampiri ketika malam telah sangat larut.

Mungkin itu adalah gaya Anda—terputus dari dunia luar. Namun, tahukah Anda bahwa menulis di lingkungan yang ramai sebenarnya juga memberi keuntungan tertentu untuk proses menulis. Terus-terusan mengurung diri tanpa mencoba menulis di tempat dengan suasana lain hanya akan menggiring Anda kepada apa yang disebut “writer’s block”.

Sebenarnya, tidak ada masalah untuk mencoba menulis di tempat yang ramai. Benar-benar ramai. Ray Bradbury, penulis Amerika yang terkenal lewat karyanya Fahrenheit 451, memberi bocoran bahwa ia menulis di ruang tamu, tempat keluarga dan tamu-tamunya sering lalu lalang dan mengobrol. Mungkin tidak semua penulis dapat melakukannya. Tidak ada masalah, Anda tidak perlu menulis. Anda hanya perlu “mencatat suasana”.

Young business woman in cafe

Jika biasanya Anda menulis dalam diam, bayangan mengenai menulis di tempat ramai mungkin terdengar mengerikan. Walau demikian, ada sejumlah alasan mengapa Anda mungkin perlu dan ingin bereksperimen dengan menulis di tempat yang bising.

  1. Percakapan-percakapan di tempat umum menginspirasi dialog yang otentik
  2. Tidak ada salahnya menguping percakapan yang terjadi di sekitar Anda. Apa yang orang-orang obrolkan? Kata apa yang biasa mereka gunakan? Bagaimana karakter dan jenis suara dari orang-orang itu? Dan yang paling penting, bagaimana sebuah percakapan terungkap?

    Tanpa Anda sadari, dengan “menguping”, Anda memperhatikan bagaimana seseorang berbicara, dan membiarkan cara mereka bicara berkembang menjadi tulisan Anda.

  3. Kebisingan menawarkan warna baru untuk tulisan Anda
  4. Anda tidak sedang mengerjakan ujian. Anda sedang menulis—menciptakan karya. Lepaskan dahulu pikiran bahwa kebisingan hanya akan mengganggu Anda. Tempat-tempat ramai justru memberikan detail informasi dan warna baru untuk tulisan Anda. Jika menulis fiksi, bisa jadi suasana yang Anda dapatkan dari tempat-tempat ramai akan memberikan Anda inspirasi untuk memperdalam karakter.

  5. Suara berisik sumber inspirasi

Pada tahun 2012, para peneliti di University of Illinois di Urbana-Champaign merilis jurnal dengan judul “Is Noise Always Bad? Exploring the Effects of Ambient Noise on Creative Cognition”. Jurnal ini merupakan hasil penelitian mereka bahwa suara-suara berisik tingkat menengah (sekitar 70 desibel)—setara dengan keramaian di kedai kopi yang sedang sibuk—justru dapat membantu seseorang untuk berpikir lebih kreatif. Namun, pada tingkat kebisingan yang lebih tinggi—di atas 85 desibel—justru akan mengganggu kreativitas.

 

Percayalah, hidup dimulai dari kebisingan. Anda lahir dengan dan di dalam kebisingan. Meskipun Anda kemudian lebih memilih keheningan sebagai teman menulis, bunyi akan membawa Anda dan tulisan Anda ke tempat-tempat yang lebih imajinatif. Menulis di tengah-tengah kebisingan memang membutuhkan konsentrasi ekstra pada awalnya, dan sedikit penyesuaian rutinitas. Namun, tidak ada salahnya mencari tahu seperti apa rasanya, kan?

Leave a Reply