Buku Petunjuk untuk Pembaca

Yudho Raharjo
follow me

Yudho Raharjo

Head of PR & Communication at Arkea
Belajar Jurnalistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Poitik Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kini melanjutkan studi magister Komunikasi Perusahaan di Universitas Paramadina, Jakarta. Berpengalaman lebih dari 10 tahun sebagaiwartawan, penulis dan editor di berbagai media. Salah satu buku yang telah disunting berjudul “Menjaga Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa” karya Marsekal Purnawirawan Chappy Hakim.
Yudho Raharjo
follow me

Latest posts by Yudho Raharjo (see all)

“Para peserta reading group akan duduk melingkar sambil memegang novel Max Havelaar”

Dalam peluncuran buku “Anak-anak Multatuli” karya Ubaidilah Muchtar di Bandung, salah satu peserta diskusi bertanya kepada pembicara. Pertanyaannya singkat dan tidak bertele-tele.

“Bagaimana membentuk sebuah kelompok baca?”

Salah seorang pembicara, Ilham Miftahudin, lantas menjawab dengan singkat. “Bacalah buku ini” ujar Ilham sambil menunjukkan buku “Anak-anak Multatuli” yang digenggam di tangan kirinya.

AAM-Bandung-4

Mendengar jawaban Ilham, sekitar 50 orang peserta diskusi buku terbitan arkeabooks yang memadati Gedung Geugeut Winda, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Selasa 15 Maret 2016, riuh bertepuk tangan.

Mendengar gempita tepuk tangan itu, Ilham yang mencoba mengikuti jejak Ubaidilah membentuk kelompok baca tidak menjadi besar kepala. Dia justru menceritakan bagaimana sulitnya melakukan hal yang sama dengan Ubaidilah.

Dalam hand-out yang menjadi pengantar diskusi, Ilham mengemukakan dengan baik apa yang dilakukan Ubaidilah (http://www.buruan.co/petualangan-literasi-anak-anak-multatuli/), berikut kutipan di salah satu paragraf:

Petualangan literasi mereka telah dimulai sejak 23 Maret 2010 silam. Mereka akan duduk melingkar sambil memegang novel Max Havelaar. Ubaidilah Muchtar atau yang lebih akrab disapa Guru Ubai akan membacakan dengan nyaring paragraf demi paragraf. Kadang mereka diminta membaca secara bergantian. Membacakan untuk teman-temannya. Saat itu, novel Max Havelaar yang tersedia di Taman Baca Multatuli hanya berjumlah 20 eksemplar. Jika jumlah peserta reading lebih dari dua puluh, maka mereka dengan senang hati akan berbagi.  

Namun menurut Ilham, menularkan apa yang telah dilakukan Guru Ubai sejak enam tahun lalu itu mudah (http://arkea.id/menularkan-virus-kelompok-membaca/). “Mempertahankannya itu yang sulit,” katanya.

AAM-BDG-5

Kemudian Ilham menceritakan bagaimana kesulitan yang dihadapinya ketika membentuk kelompok baca (reading group) novel Bumi Manusia, karya penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Menurut Ilham, dua buah reading group “Bumi Manusia” yang coba dibentuknya tak mampu bertahan lama seperti reading group “Max Havelaar”. Ada yang bertahan selama sepuluh kali pertemuan.

“Ada juga yang hanya mampu bertahan selama satu pertemuan,” ujarnya.

“Keberhasilan” Guru Ubai dan “Kegagalan” Ilham tentu saja menjadi pelajaran menarik bagi siapa saja yang tengah berusaha membangun reading group. Namun, tentu saja bukan “Keberhasilan” atau “Kegagalan” yang perlu dinilai dari sebuah reading group. Mungkin yang perlu dinilai adalah dua baris penutup novel “Bumi Manusia”. Dua baris terakhir percakapan dua tokoh utama yaitu Minke dengan Nyi Ontosoroh:

“Kita kalah, Ma” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Jadi bukan sekadar keberhasilan atau kegagalan yang layak dinilai bukan?

 

Leave a Reply