Bisnis Saya B2B, Apa Pentingnya Eksis di Media Sosial?

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Dalam beberapa kali presentasi kepada calon klien, kadang-kadang ada saja komentar seperti ini,
“Bisnis saya ini B2B kok. Enggak perlu lah garap media sosial.”

Pertanyaannya:
apa betul perusahaan B2B tidak butuh eksis di media sosial?

 

Mari menguji asumsi itu.

Kita mungkin bisa berdebat semalaman tentang seberapa efisien media sosial untuk perusahaan B2B. Para pelaku B2B biasanya beralasan, calon klien B2B bisanya tidak ada di media sosial. Jadi, membangun kanal informasi lewat media sosial dianggap tak perlu.

Kita boleh sepakat untuk itu.
Tapi, itu hanya berlaku jika perusahaan B2B Anda masih baru, belum memiliki sumber daya yang cukup.

Jika itu kondisinya, maka teknik jualan konvensional seperti presentasi, atau prospecting secara tatap muka, lebih cepat menghasilkan pendapatan. Presentasi. Jualan.

Tapi, ada alat luar biasa yang akan mengungkit daya saing bisnis Anda. Yaitu, internet. Apa tak mau dimanfaatkan?

Kekuatan informasi di era seperti ini dapat mengungkit performa bisnis Anda, baik B2B atau B2C. Siapa yang mudah dicari di media online, maka ia lah yang berpotensi lebih besar untuk mendapatkan calon konsumen.

Coba kita pikirkan, apa yang dilakukan seseorang saat ini jika membutuhkan informasi atas sesuatu? They google it. 

Jadi, apakah bisnis B2B Anda sudah dikenal Google?
Bagaimana Google merekomendasikan bisnis B2B Anda jika tak kenal?

Langkah pertama, tentu punya website. Tapi website hanyalah satu langkah awal kecil dari serangkaian panjang perjalanan menjadi akrab dengan Google.

Sebab website yang jarang update, atau isinya tak disukai pembaca, hanya akan dianggap remah-remah kotoran oleh Google. Ibarat toko, tak akan ada yang mau bertandang jika barang jualan Anda tak menarik, berdebu, dan banyak sampah.

Kalaupun toko Anda sudah punya isi yang bagus, ruang pajang menarik, ada program diskon, tapi Anda cuma menunggu yang datang, ya sama juga.

Di sinilah, media sosial ambil peran.

 

Bayangkan begini, Anda punya toko di Jalan Laris.

Facebook ialah sebuah pasar. Anda datang ke pasar itu, lalu bercerita dengan sejumlah orang di sana, bahwa toko Anda di Jalan Laris jualan ini itu, ada diskon ini itu.

Lalu Anda juga pergi ke pasar Twitter, melakukan hal yang sama. Lalu ke pasar Instagram. LinkedIn. Pinterest. dan seterusnya, dan melakukan hal sama.

Lama-kelamaan toko Anda akan kedatangan lebih banyak orang. Mungkin mereka cuma melihat, dan tidak membeli. Tapi toko Anda jadi ramai.

Lalu Google melihat keramaian itu, dan menilai bahwa toko Anda bagus. Ini seperti jika kita ingin makan di kaki lima, lalu mengambil keputusan warung terenak berdasarkan antrian terbanyak.

Nah, ketika Google sudah mengenal toko Anda, sudah mengingat toko Anda, maka suatu saat Google akan merekomendasikan toko Anda. Saat ada yang bertanya kepada Google tentang sebuah barang yang kebetulan juga dijual di toko Anda, maka Google akan memberitahukan toko Anda.

Begitu kira-kira gambaran sederhananya.

Google enggak membedakan bisnis B2B atau B2C, tapi menilai keramaian toko Anda. Popularitas konten dipengaruhi oleh bagaimana konten itu disukai di media sosial (atau dibenci). Yang jelas, semakin banyak orang berbagi konten Anda di media sosial, maka akan semakin tinggi popularitas konten. Yang berarti: konten Anda akan semakin mudah ditemukan di Google.

Beberapa tahun lalu petinggi Google pernah menyebutkan, urusan rating di mesin pencari mereka tak ada hubungannya dengan seberapa banyak konten dibagikan di media sosial. Namun, logikanya begini. Algoritma mesin pencari dibuat semakin pintar setiap hari, dibuat semakin spesifik. Popularitas media sosial yang kemudian mendatangkan traffic ke website, pasti lah jadi hitungan.

Jadi, secara teknis, popularitas konten di media sosial pasti berpengaruh kepada rating di mesin pencari.

Tapi bisnis saya B2B. Kontennya membosankan untuk media sosial

Lagi-lagi, itu asumsi. Atau bahkan, mitos.

Memang, B2B dan B2C berbeda. Karena itu fokus untuk menyampaikan pesan di media sosial pun berbeda. Bisnis B2C umumnya fokus pada customer engagement, pertumbuhan audiens, ataupun sentimen brand. Sementara B2B seharusnya lebih fokus pada bagaimana mendatangkan traffic, leads, atau voice dari media sosial.

Tapi keduanya, baik B2B atau B2C, sama-sama membutuhkan trust dari audiens.

Media sosial tidak secara khusus dibuat untuk mengakomodasi orang jualan baju atau kue. Jadi, kalaupun perusahaan Anda menjual silica gel untuk industri, ya tetap saja bisa eksis di media sosial.

Kuncinya, di mindset kita.

Apa yang harus dibicarakan di media sosial, seharusnya berfokus pada audiens Anda, bukan semata pada produk/jasa Anda.

Maka konten yang dibuat dan disebarkan lewat media sosial, seharusnya juga berfokus pada konten yang paling pas untuk audiens atau calon konsumen Anda.

Konten yang tepat menghasilkan traffic ke website.
Website yang ramai meningkatkan rating di mesin pencari.
Perusahaan B2B Anda makin populer dan mudah ditemui di mesin pencari.

Jadi, kata siapa perusahaan B2B tidak perlu eksis di media sosial?

Anda hanya perlu strategi dan orang yang tepat agar eksistensi perusahaan B2B di media sosial dapat mendorong pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.

Besok, Silakan baca artikel kami tentang Strategi B2B Menarik Audiens di Media Sosial

Leave a Reply