Berusaha Keras Tanpa Terlampau Keras

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Buku Anda akhirnya terbit juga! Seluruh perasaan muncul campur aduk: bahagia, lelah, sekaligus panik. Bahagia karena “bayi” Anda lahir ke dunia; lelah karena masih harus berurusan dengan hal-hal pascaproduksi yang harus dibereskan; panik karena Anda juga harus memikirkan bagaimana cara memberi kabar pada semua orang bahwa buku Anda akhirnya terbit. Apa yang kemudian memenuhi isi kepala Anda—paling tidak dalam seminggu ke depan—adalah, “Akankah ada orang yang membelinya?” atau “Apakah orang-orang akan menikmati apa yang kusajikan?”

Tentu kita semua bersyukur bahwa kita berada di era ketika media sosial telah sangat berkembang, bahkan dijadikan salah satu alat penting dalam promosi dan pemasaran. Media sosial, seperti Facebook, Twitter, Path, bahkan Instagram, telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat kita dalam berbagi informasi: mencari dan memberi.

Ketika Anda memiliki buku baru yang sudah terbit, tidak ada salahnya jika Anda menggunakan media-media sosial untuk mempromosikannya.

Bentuk promosi bisa dilakukan dengan berbagai macam cara yang kreatif. Anda bisa bercerita mengenai suka duka ketika mulai menyusun buku, mengeditnya, mencetaknya, hingga kemudian mendapatkannya dalam bentuk yang sudah tercetak, lengkap dengan nomor ISBN. Anda juga bisa memberi tahu di mana saja buku Anda bisa didapatkan. Teman-teman dan follower Anda pasti ikut senang. Dan bukan hanya mengucapkan selamat. Di situ poinnya. Anda berkesempatan untuk mendapatkan publikasi, baik langsung maupun tidak langsung, dari teman-teman dan pengikut Anda yang memberikan balasan dan ikut membagikan kepada orang lain.

blog-promotion-on-social-media

Tanpa disadari, hampir setiap jam dan setiap hari Anda menceritakan buku Anda di media sosial. Bahkan mulai terang-terangan meminta orang lain untuk membelinya. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Semuanya sah-sah saja, tetapi apakah perlu sedemikian keras usaha Anda untuk menjual buku? Sebelum Anda terlalu banyak mem-posting hal-hal terkait buku baru Anda, mungkin Anda perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah ada hal yang disebut “terlalu banyak berpromosi”?

Tentu saja ada.

Anda adalah seorang penulis. Media sosial Anda mencitrakan diri sebagai seorang penulis, bukan sebagai akun toko buku. Sebelum mencoba meyakinkan pembaca untuk membeli buku Anda, tujuan Anda sebagai penulis di media sosial adalah membangun kepercayaan dan hubungan dengan mereka. Tampilkan kepribadian Anda, jangan melulu mengisi lini masa dengan info atau kutipan-kutipan terkait buku Anda. Sebagai penulis, Anda juga manusia biasa yang boleh bicara dan berpendapat mengenai apa saja. Dari situlah warga media sosial yang merupakan calon pembaca dapat melihat sisi lain, wawasan, dari sikap Anda. Walau demikian, tetap perhatikan post Anda, bisa juga dengan menghitung berapa banyak yang memberikan respons, dan tanggapilah mereka.

Social media Marketing

Hal-hal yang ada di atas adalah soft selling, dan ini bukan hal yang bisa dilakukan hanya seminggu atau dua minggu setelah buku Anda bisa ditemukan di pasaran. Promosi buku seperti ini memerlukan usaha yang keras, tetapi bukan dengan penjualan keras—hard selling. Penjualan keras cenderung diperuntukkan untuk produk-produk massal, dengan jenis pembeli yang massal pula. Meskipun tidak berlaku secara general, yang seperti ini mudah hilang dalam tempo yang singkat. Tentu Anda tidak berharap buku Anda bernasib demikian, bukan?

Lalu, adakah formula khusus untuk melakukan promosi buku? Berapa banyak post yang harus saya unggah setiap hari? Adakah prime time atau waktu yang tepat untuk saya mengurus media sosial saya?

Ayolah, Anda bukan politisi. Sekali lagi, Anda adalah penulis. Formula hanya diperuntukkan bagi mereka yang harus berjualan dan mengejar keuntungan. Jika yang Anda inginkan adalah kesan bagi para pembaca, maka hehadiran di media sosial memang penting, tetapi bukan soal berapa banyak dan kapan; melainkan keterlibatan Anda dengan pembaca. Inilah yang dimaksud dengan berusaha keras tanpa terlampau keras.

Leave a Reply