Berbagi Cerita di Balik Dapur: Membangun Kepercayaan Konsumen Lewat Jurnalisme Merek

Josefa Arybowo

Josefa Arybowo

Literary enthusiast who put huge interest in music and photography. Black coffee, pencil, and notebook are her inseparable companions.
Josefa Arybowo

Latest posts by Josefa Arybowo (see all)

Seberapa sering Anda membuka dan membaca majalah yang diletakkan di balik jok ketika menaiki taksi atau pesawat? Meskipun mungkin Anda tahu bahwa majalah itu dibuat oleh perusahaan transportasi yang sedang dinaiki, tentu yang Anda cari di dalam majalah itu bukan hanya informasi mengenai perusahaan tersebut. Bisa jadi Anda ingin membacanya karena ada judul artikel yang menarik perhatian berkaitan dengan tujuan perjalanan, atau sekadar menikmati foto-foto dan tampilan visual yang tersaji.

Pertanyaan selanjutnya kemudian mengarah pada: “Apakah Anda menikmati isi majalah tersebut? Apakah Anda menanti edisi berikutnya?” Ketika Anda menjawab, “Ya,” maka pada saat itu lah jurnalisme merek sukses bekerja.

Di masa ketika teknologi sangat mengakomodasi ketersediaan informasi seperti sekarang ini, Anda dan konsumen lainnya tentu semakin jeli dan cerdas dalam menyaring produk yang paling dibutuhkan dan diinginkan.

Iklan-iklan di televisi, radio, maupun media lainnya yang berusaha menanamkan product knowledge secara terang-terangan tidak lagi menjadi referensi. Bahkan para konsumen seringkali merasa terganggu dengan kehadiran iklan seperti ini. Tentu Anda pernah mendengar anekdot bahwa “Hanya barang jelek yang  butuh iklan”. Meskipun pendapat ini tidak 100 persen benar, toh nyatanya, para konsumen ternyata lebih percaya pada ulasan-ulasan di blog atau rekomendasi di media sosial yang cenderung lebih personal, karena terasa lebih berbagi mengenai apa yang diketahui tentang suatu produk.

MobileNews-538x218

Pada situasi seperti ini, yang menjadi prioritas adalah dialog antara produsen dengan konsumen terhadap suatu produk, apa pun medianya. Produsen tidak bisa lagi menguasai konsumennya secara searah. Itu sebabnya, jurnalisme merek atau yang lebih dikenal sebagai brand journalism semakin marak dilakukan sebagai sebuah strategi pemasaran maupun strategi komunikasi. Dengan menggunakan prinsip-prinsip jurnalisme, brand journalism tidak benar-benar menciptakan berita, melainkan membuat konten yang menarik bagi pembacanya. Pemilik brand lebih bertindak sebagai content editor di ruang-ruang berita, sedangkan para jurnalis mencari angle-angle menarik dalam menyajikan berita. Persoalan di ruang redaksi adalah bagaimana produsen menyajikan informasi yang menarik sambil memperkenalkan dan memperkuat posisi suatu merek di benak konsumen.

Perkembangan dunia maya dan media sosial dalam beberapa tahun terakhir ini memang telah mengubah definisi tradisional mengenai media. Buka laptop atau smartphone, ketik nama produk di search engine, klik. Sederet ulasan mengenai suatu produk atau perusahaan pun akan muncul. Meskipun kemudian banyak perusahaan beralih menggunakan media sosial dan website untuk “menitipkan” pengenalan produknya, bukan berarti majalah, tabloid, maupun katalog cetak kemudian ditinggalkan begitu saja. Media cetak dianggap lebih menyajikan sesuatu yang timeless dan bisa dinikmati kapan saja.

WhatsStory

Melalui jurnalisme merek, ada banyak hal yang bisa dibagikan oleh sebuah perusahaan kepada konsumen mereka. Kisah di balik dapur produksi, proses penciptaan, proses pengolahan ide, aksi para karyawan, bahkan profil kepemimpinan bos di kantor bisa menjadi hal yang menarik untuk para konsumen. Tidak semua hal perlu diceritakan, tetapi tidak ada salahnya menjadi lebih transparan dan terbuka. Justru dengan bersikap lebih terbuka, konsumen diharapkan akan lebih memahami dan percaya pada suatu merek. Terkadang suatu perusahaan teralienasi dari konsumennya karena tidak benar-benar mampu memahami apa yang para konsumen inginkan. Lewat jurnalisme merek, produk justru akan lebih relevan dengan konsumen karena lebih peka terhadap isu dan tren yang sedang “in” di kalangan konsumen.

Brand journalism yang baik dapat menjadi salah satu jalan untuk menciptakan hubungan emosional yang dekat antara brand dengan konsumen.

Dengan memberikan sesuatu—dalam hal ini adalah konten—yang dibutuhkan oleh konsumen, sebuah brand bisa memposisikan diri sebagai “teman” yang selalu diingat dan dibutuhkan. Dengan demikian, transaksi dan loyalitas yang diharapkan akan terjadi dengan sendirinya, bukan?

2 thoughts on “Berbagi Cerita di Balik Dapur: Membangun Kepercayaan Konsumen Lewat Jurnalisme Merek

Leave a Reply