Bela Negara di Darat, Laut dan Udara

Yudho Raharjo
follow me

Yudho Raharjo

Head of PR & Communication at Arkea
Belajar Jurnalistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Poitik Universitas Atma Jaya Yogyakarta, kini melanjutkan studi magister Komunikasi Perusahaan di Universitas Paramadina, Jakarta. Berpengalaman lebih dari 10 tahun sebagaiwartawan, penulis dan editor di berbagai media. Salah satu buku yang telah disunting berjudul “Menjaga Ibu Pertiwi dan Bapak Angkasa” karya Marsekal Purnawirawan Chappy Hakim.
Yudho Raharjo
follow me

Latest posts by Yudho Raharjo (see all)

Seorang ahli strategi perang dari Prusia, Von Clausewitz pernah mengatakan, perang terlalu penting untuk diserahkan hanya pada seorang Jenderal. Sebagai seorang Marsekal yang pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Republik Indonesia pada 2002-2005, Chappy Hakim tentu memahami benar pernyataan Von Clausewitz tersebut.

 

Meski sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi purnawira, Chappy tak henti-hentinya memberikan sumbangan pemikiran, termasuk mengenai pertahanan dan keamanan negara melalui tulisan-tulisannya. Melalui buku berjudul ”Menjaga Ibu Pertiwi & Bapak Angkasa”, Chappy mengajak para pembacanya untuk menjelajahi cakrawala pemikirannya.

Pemikiran-pemikiran yang dituangkan dalam buku ini berasal dari pengalaman panjang Chappy bertugas selama lebih dari 30 tahun di Angkatan Udara. Sejak pertama kali lulus dari Akabri Udara pada tahun 1974 dengan pangkat Letnan Dua Udara hingga dipercaya Presiden RI menjabat sebagai KASAU pada tahun 2002 hingga 2005.

Dalam buku setebal 349 halaman ini, Chappy mengajak generasi muda Indonesia sebagai sumber daya nasional terbesar untuk terlibat aktif dalam bela negara. Tidak hanya di laut dan di darat, namun juga di udara. Seperti yang berulang-ulang kali diingatkan Chappy tentang strategi pertahanan keamanan Indonesia yang harus dirumuskan sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari sepertiga daratan, dua pertiga lautan dan tiga per tiga dirgantara.

Buku dengan sub judul “Membangun Pertahanan Keamanan Negara” ini adalah sebuah buku yang istimewa. Istimewa karena tidak seperti buku-buku Chappy lainnya yang berisi kumpulan tulisan-tulisan lepas di berbagai media maupun di blog pribadinya. Setelah buku Pertahanan Indonesia (Angkatan Perang Negara Kepulauan), Quo Vadis Kedaulatan Udara Indonesia (Tragedi Aru, Insiden Bawean, dan…), Menjaga Ibu Pertiwi & Bapak Angkasa (Membangun Pertahanan Keamanan Negara) adalah buku ketiga yang merangkum pemikiran-pemikiran Chappy secara utuh.

Di dalam buku yang terdiri dari enam bab ini, Chappy juga melontarkan kritik tajam terhadap angkatan perang yang berpolitik. Dengan berkaca pada sejarah, Chappy menuliskan pada era orde baru setelah Jenderal Soeharto menggantikan Bung Karno, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang kini bernama Tentara Nasional Indonesia (TNI) lebih berorientasi sosial-politik daripada mengedepankan fungsi pertahanan keamanan.

Dampak dari angkatan perang yang berpolitik akhirnya menghasilkan desain angkatan perang. Pada era orde baru, Indonesia menganut desain keamanan internal dan operasi territorial. Desain keamanan itu juga tak luput dari kritik Chappy.

Namun Chappy tak hanya mengajukan kritik, berbagai solusi atas kritik yang ia lontarkan juga turut dikemukakan dalam buku ini. Tak berhenti pada solusi, buku ke-17 karya Chappy ini sekaligus mengemukakan langkah-langkah operasional yang harus ditempuh untuk menyelesaikan persoalan pertahanan keamanan yang kacau balau selama lebih dari setengah abad usia kemerdekaan Indonesia.

Seperti apa solusi dan langkah-taktis yang ditawarkan Chappy? Pembaca perlu “melahap” buku yang menjelaskan hal-hal yang sulit dengan bahasa yang sederhana ini.

Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, buku ini tersedia di toko-toko buku di kota Anda.

Leave a Reply