2017, Saatnya Membuat Konten Video

Sica Harum

Sica Harum

CEO, Head of Content at Arkea
Create content based on data. She has more than 10 years experiencing in journalism and digital content, specialized in narrative journalism.
Sica Harum

Jumlah video yang ditonton lebih banyak daripada jumlah informasi yang dibaca. 

Google Indonesia mengungkapkan paparan menarik di sebuah seminar di Jakarta, Kamis, 12 Januari 2017. Disebutkan, bahwa sepanjang tahun 2016, jumlah video yang ditonton di Youtube mencapai rata-rata delapan juta per bulan. Bandingkan dengan 72 juta pencarian informasi melalui mesin pencari, dalam setahun.

Anda percaya data itu?
Katanya, harga paket data masih mahal di Indonesia?
Katanya, koneksi internet masih nyebelin, masa sih enggak video buffering melulu?

Ya, katanya gitu.

Tapi data yang dipaparkan Google Indonesia itu jelas-jelas mengungkap: ada lebih banyak video yang ditonton daripada informasi yang dibaca.

Artinya, generasi produktif di era ini, lebih suka yang visual ketimbang dicekoki kata-kata. Dan generasi ini yang mendominasi pengguna internet di Indonesia, yang totalnya kini mencapai 100 juta jiwa.

Angka ekspektasi pengguna internet di seluruh dunia. Sumber: Cisco VNI Global

Dari Vlogger sampai Iklan Komersial

Youtube merupakan media berbagi video paling populer di dunia, meski disebut-sebut jumlah penonton sudah menurun (versi Socialblade).

Di Youtube Anda bebas memilih konten apa saja. Mulai hal remeh tentang mantan, make up tutorial,  room tour, debat pilkada DKI, hingga eksperimen sosial tentang gado-gado kaki lima vs restoran. Atau remaja yang menjerit dramatis saat nge-game. Atau sumpah serapah. Atau bahkan liburan romantis anak bau kencur yang membuat banyak ABG merasa wajib punya relation’s goal serupa.

Jutaan konten dibagi, dan dilihat setiap hari. Bahkan video iklan komersial pun menghiasi layar Youtube.

Dulu, saat iklan menguasai televisi, barangkali kita bisa sengaja meninggalkan layar TV lalu pergi ke dapur demi menyeduh secangkir kopi. Tapi kini, barangkali Anda seperti saya, yang sudah mulai mencari iklan bagus di Youtube. Iklan-iklan yang inspiratif, atau menyentuh, ialah sebuah konten menarik yang layak dilihat, bukan lagi sebuah pengganggu.

Biasanya, video iklan dari brand yang tak memaksakan diri menjadi pusat perhatian dan memiliki konteks yang kuat, justru berhasil membuat dirinya diingat. Sampai sekarang, barangkali campaign AADC Reunion di LINE, masih Anda ingat karena konteksnya yang begitu kuat.

Saat pertama kali video itu disebarkan di jagat maya, barangkali Anda termasuk yang baper seharian dan terhibur dengan banyaknya meme dan parodi yang mengekor setelahnya.

Dalam sebuah sharing event dalam acara Tech In Asia 2016, Managing Director LINE Indonesia Ongky Kurniawan menyebutkan jumlah pengunduh aplikasi chat messenger tersebut melonjak drastis, seiring dengan mini drama AADC yang populer dalam sekejap.

Konten video yang viral bisa mendongkrak angka penjualan.  Meski angkanya tidak selalu bisa dipastikan.

Relatif Murah dan Terukur

Tidak semua video bagus dijamin bisa populer di internet. Sampai sekarang pun, kita banyak menemukan video -yang entah apa bagusnya- bisa ditonton lebih dari satu juta kali.

Namun, mengunggah video ke internet menjadi salah satu cara kita mengukur kehendak pasar.

Mengunggah video iklan di Youtube sebelum menayangkan di televisi nasional juga dilakukan oleh Bukalapak.com. Mereka lebih dulu mencari tahu mana video yang populer di internet, baru membayar lebih mahal untuk spot iklan di televisi. Strategi ini terhitung berhasil untuk tahap amplify the message.

Seperti dilansir Nielsen Indonesia dan UCNews, jumlah penonton televisi di Indonesia masih dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang mengakses internet.

Meski begitu, jumlah pengakses internet terus meningkat dan menunjukkan tren positif.  Tahun 2016, tercatat 100 juta pengguna internet, dengan sebagian besar (diatas 90%) mengakses internet melalui ponsel.

Tak bisa dibantah lagi, bahwa membuat konten di internet merupakan sebuah investasi.

Live Video Streaming

Popularitas konten video yang merajai internet pada 2016 juga seiring dengan ramainya platform live video streaming mulai dari Periscope yang menyatu dengan Twitter, Facebook Live, hingga Bigo Live, atau HiClub (dari ClipOnYou yang sebelumnya berbasis PC).  Bukan cuma SPG cantik yang bisa jadi host, namun brand juga bisa mengoptimalkan kanal ini.

Facebook Live sering dipakai sebagai kanal siaran langsung peluncuran sebuah produk baru. Begitu juga halnya dengan Periscope yang menyatu dengan Twitter.

Saya kira, tahun 2017 ini akan lebih semarak dengan konten video.  Anda siap?

Leave a Reply